<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>MANGLAYANG FARM ONLINE</title>
	<link>http://manglayang.blogsome.com</link>
	<description>A small farm, where we learn the science, art, and business of cultivating soil, producing crops, and raising livestock.</description>
	<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 05:51:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Pagar High Tensile Smooth Wire #1</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2009/09/24/pagar-high-tensile-smooth-wire-1/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2009/09/24/pagar-high-tensile-smooth-wire-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 11:59:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Scrapbook</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2009/09/24/pagar-high-tensile-smooth-wire-1/</guid>
		<description><![CDATA[	



   
	
DIY: High Tensile Smooth Wire Fence
   
   
	Beberapa waktu yang lalu kami berkesempatan bergiat di wilayah Kawasan Konservasi Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK). Kegiatan kami disana untuk membantu pengelola kawasan dalam pembangunan pagar untuk penangkaran rusa.
	Alkisah, pengelola kawasan TBMK merencanakan untuk memperluas area penangkaran rusa yang sebelumnya sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
<table border="0" align="center">
<tr align="center">
<td><a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/UrmquBloS6Tnf5fLKes7qQ?feat=embedwebsite"><img border="0" src="http://lh4.ggpht.com/_Tidm7_-IIMw/Srpv0IoVEzI/AAAAAAAAAPE/dNsVipJOTqM/s288/near_finished_frontline_fence.jpg" /></a></td>
   </tr>
	<tr>
<td><em><u>DIY: High Tensile Smooth Wire Fence</u></em></td>
   </tr>
   </table></p>
	<p>Beberapa waktu yang lalu kami berkesempatan bergiat di wilayah <a title="Kawasan Konservasi Masigit Kareumbi" target="_self" href="http://kareumbi.wordpress.com">Kawasan Konservasi Taman Buru Masigit Kareumbi</a> (TBMK). Kegiatan kami disana untuk membantu pengelola kawasan dalam pembangunan pagar untuk penangkaran rusa.</p>
	<p>Alkisah, pengelola kawasan TBMK merencanakan untuk memperluas area penangkaran rusa yang sebelumnya sudah ada disana. Dan menawarkan kepada kami untuk membantu melakukan perancangan sistem dan model kandang. Dengan senang hati (dan agak terburu-buru) tawaran ini serta merta kami iyakan dengan satu syarat. Bukan apa-apa, kebetulan kami sedang mencoba membuat sistem kandang untuk percobaan penggembalaan pada ayam dan tentu urat eksperimen kami cukup tertantang untuk mencoba pada skala yang lebih serius <img src='http://manglayang.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
	<p>Syaratnya adalah pagar untuk penangkaran rusa itu dibuat dengan sistem yang dikenal dengan nama <em>High Tensile Smooth Wire</em> (HTSW). <br />     Tulisan kali ini mungkin bertele-tele, tapi kami ingin sedikit bercerita mengenai proses yang kami lalui dalam rangka membuat pagar model HTSW.      </p>
     <a id="more-85"></a>
<p><strong>Sekilas HTSW</strong><br />        Pagar model ini sebetulnya sudah sejak lama dikenal di luar negeri. Kalau tidak salah yang pertama mempopulerkannya adalah peternak dari New Zealand dan Australia. Dari sana kemudian berkembang sampai ke Amerika, Canada, Eropa bahkan Afrika. Karena berbagai keunggulannya, pagar model ini sangat berkembang di belahan dunia lain, kalau kita mencari di internet, demikian banyak supplier dan kontraktor untuk pagar <em>high tensile</em>.<br />     Namun kami belum pernah melihat pagar model begini diterapkan di Indonesia, atau mungkin saja kami yang kurang bergaul (he..he). Tapi setidaknya di sekitar Bandung kami belum pernah menemukan sistem pagar seperti ini diterapkan.        </p>
	<p>Berbeda dengan pagar kawat konvensional yang lazim dikenal seperti pagar kawat anyam yang di las (<em>spot welded mesh wire</em>) ataupun kawat anyam model harmonika (<em>chain link wire mesh</em>), pagar model HTSW ini dibuat dari deretan lembar kawat yang diregang (<em>tensile</em>) dengan cukup keras/ tegang. </p>
	<table border="0">
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/mKSuVWqIzobr79tP7T_OlQ?feat=embedwebsite"><img height="193" border="0" width="186" src="http://lh6.ggpht.com/_Tidm7_-IIMw/SrpxDn0lT3I/AAAAAAAAAPU/AVHbw7ajyec/s288/chain_link_fence-bombayharbor.com.jpg" /></a></td>
	<td valign="top"><a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/Ii3VEqP1N5kinDLaW2Kn9Q?feat=embedwebsite"><img height="199" border="0" width="265" src="http://lh5.ggpht.com/_Tidm7_-IIMw/Srpz0DNWjXI/AAAAAAAAAPc/D1eJbmo4zIo/s288/welded_wire_mesh.jpg" /></a></td>
     </tr>
	<tr align="center">
<td><em>Kawat harmonika/ Chain link wire mesh<br />        (picture courtesy of bombayharbor.com)</em>       </td>
	<td valign="top"><em>Kawat &#8216;welded wire mesh&#8217;<br />     (picture courtesy of top-fence.com)</em>      </td>
        </tr>
       </table>
	<p><strong>Mengapa HTSW?</strong><br />        Ada beberapa filosofi disain yang melatarbelakangi kenapa kami memilih model ini. Tapi setelah ditimbang-timbang, ternyata rasa penasaranlah yang lebih menonjol (ha..ha). <br />        Pertanyaan yang sering muncul ketika kami berdiskusi adalah mengapa di Indonesia orang jarang menggunakan pagar model ini untuk membuat padang penggembalaan? sementara di luar negeri sudah lazim digunakan. Apakah lokalita? apakah biaya? ataukah ada alasan lain? (padahal jawabannya <em>obvious</em>, padang penggembalaannya saja jarang). Setelah membaca artikel ini mungkin pembaca bisa menyimpulkannya sendiri. Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak ada jalan lain selain melangkah dan mencoba membuatnya bukan?        </p>
	<p><strong>Proses Pematangan Disain<br />        </strong>Keinginan untuk membuat pagar model ini sebetulnya sudah lama kami bahas dalam percakapan-percakapan internal dengan tim Manglayang Farm. Awalnya ketika beberapa tahun lalu kami sempat iseng mencoba membuat pagar listrik (<em>electric fence</em>). Pada saat itu kendala utama selain <em>charger </em>sebagai pembangkit daya, adalah juga kawat yang digunakan untuk mengalirkan listrik. Dan seperti biasa, eksperimen <em>electric fence</em> lantas terhenti karena berbagai kendala (sebenarnya yang utama adalah faktor malas, awas jangan ditiru! hehe)        </p>
	<p>Langkah pertama dalam rangka memantapkan rencana menggunakan HTSW ini adalah, seperti biasa, melakukan studi literatur dari internet dan studi lapangan untuk menghitung perkiraan biaya. Kami membandingkan beberapa model pagar, baik sistem konvensional yang menggunakan material kayu atau bambu maupun sistem moderen yang menggunakan besi ataupun campuran keduanya.         </p>
	<p>Keunggulan yang cukup signifikan dari pagar kawat HTSW menurut pemahaman kami adalah bahwa HTSW merupakan basis dari sistem pagar listrik untuk ternak. Sistem HTSW yang baik dapat dimodifikasi menjadi pagar listrik dengan sedikit modifikasi struktur pagar. <br />     Yang kedua adalah umur pakai. Kawat yang digunakan pada umumnya adalah kawat baja galvanis. Pada spesifikasi kawat yang digunakan di luar negeri, diklaim mampu tahan lebih dari 20 tahun. Pagar ini juga cukup mampu menahan jatuhan ranting, maupun batang pohon yang tidak terlalu besar. Pada lahan yang cukup berkontur pagar ini juga dinilai mampu beradaptasi sehingga mengurangi pekerjaan sipil seperti <em>cut-and-fill</em> tanah.<br />     Selain itu juga relatif cepat dalam soal ereksi dan hampir semuanya dapat dikerjakan di lapangan.      </p>
	<p>Dibandingkan dengan dua contoh pagar kawat diatas, <em>chain link fence</em> yang tersedia di lokal biasanya terbuat dari bahan seng (biasa disebut kawat tali atau kawat seng). Daya tahan cukup baik namun cukup mudah berkarat. Sehingga berpengaruh pada ketahanan dan estetika. Selain itu, pemasangan kawat harmonika membutuhkan rangka-rangka yang menyebabkan biaya per meter menjadi cukup mahal. Sedangkan <em>welded mesh wire</em> adalah ketahanan terhadap getaran, guncangan dan cuaca yang dapat menyebabkan las-lasan terlepas. Selain itu <em>welded wire mesh</em> juga membutuhkan rangka sehingga lagi-lagi biaya ereksinya menjadi cukup tinggi.</p>
	<p>Memang pada intinya, pagar untuk penggembalaan ternak adalah investasi yang tidak murah. Bahkan bisa dibilang nomor dua setelah biaya pembelian ternak itu sendiri.      </p>
	<p>Ada beberapa keuntungan lain dari HTSW yang kami temukan saat melakukan pembangunan, nanti kita elaborasi pada tulisan selanjutnya saja ya. <br />     Sedangkan kerugiannya juga tentu ada, salah satunya yang terpikir adalah pagar kawat model ini cenderung tidak terlihat oleh ternak. Ternak yang belum hapal akan area yang dipagari memiliki kemungkinan untuk menabrak atau bahkan tersangkut pada kawat apabila ternak panik, hal ini menjadi cukup kritis untuk ternak yang mudah stres dan kurang <em>friendly</em> seperti rusa. Tapi lagi-lagi alasan penasaran mengesampingkan alasan yang lebih rasional (he..he), belum lagi studi literatur ternyata menunjukkan bahwa HTSW juga telah banyak digunakan pada <em>game fencing</em> untuk rusa.</p>
	<p>Pagar yang kami buat ini hanya sepanjang 350an meter, untuk area penggembalaan seluas 7500m2 dengan tinggi pagar&nbsp; 220cm yang terdiri dari 14 lembar kawat.&nbsp; &nbsp; </p>
	<p><strong>Kendala</strong><br />      Setelah cukup banyak melakukan studi literatur dan percobaan-percobaan kecil, kami menemukan bahwa pembangunan pagar model HTSW membutuhkan peralatan khusus, kami menyebutnya <em>special tools</em>. Dan setelah kami perkirakan, peralatan-peralatan ini tidak bisa kami beli di pasaran lokal. Namun berbekal gambar dari internet, dan obrolan dengan salah satu suhu kami (halo pak Athol, terima kasih dan salam hormat) serta mesin las, gerinda dan bor di bengkel kerja, kami mencoba membuat sendiri alat-alat tersebut. Proses pembuatan prototip dan percobaan fungsi dari alat tersebut membutuhkan waktu lebih 2 minggu lamanya. Hah, biar jelek, yang penting puas dan <em>it&#8217;s work</em>!     </p>
	<p>Selanjutnya kami juga menemui kesulitan dalam memperoleh jenis kawat yang tepat. Kawat yang sesuai spesifikasi, lagi-lagi tidak tersedia di pasaran lokal. Ugh. </p>
	<p>Kawat yang ideal sebetulnya harus cukup mampu menahan kekuatan <em>tensile </em>sampai minimal 170.000 psi, beberapa kawat yang biasa digunakan di luar negeri bahkan bisa mencapai 210.000 psi. Berukuran 12.5 gauge (sekitar 2.1mm), dan dilapisi galvanis tipe III. Namun harus cukup mampu tekuk, agar kami bisa membuat simpul-simpul pengikat. Sebetulnya menurut informasi dari bandar kawat, bisa saja melakukan <em>fresh order</em> langsung ke pabrik sesuai spesifikasi, sayang minimum kuantitinya yang tidak bersahabat bagi pemain kecil-kecilan seperti kami. Kebanyakan toko penjual kawat bahkan tidak mampu memberikan spesifikasi <em>tensile strength</em> untuk kawat-kawat yang dijualnya. Inilah kendala yang lazim dijumpai. Jadi mudah-mudahan dengan semakin populernya pagar model HTSW, produsen atau pabrikan mau mulai memproduksi kawat dengan spesifikasi yang dibutuhkan ya.</p>
	<p>Proses selanjutnya adalah mencoba beberapa jenis dan diameter kawat (dengan nama pasar yang aneh-aneh) untuk tes tarik, mulai dari kawat seng, kawat bahan paku, kawat baja, kawat stainless sampai karena tidak kunjung ketemu, mencari-cari adakah pihak yang bisa melapisi kawat baja dengan galvanis. Sampai akhir pencarian, ternyata tidak ada satupun perusahaan galvanis di Bandung yang sanggup untuk melapisi kawat baja yang sudah tergulung dengan galvanis. Kacau.     </p>
	<p>Namun akhirnya kami menemukan beberapa gulung kawat baja terlapis galvanis yang menurut kami cucok di salah satu sudut toko barang bekas di sekitar kota Bandung dengan harga yang cukup bersahabat. Fiuh. Proses ini memakan waktu sekitar 2 minggu. </p>
     .. Bagian selanjutnya akan menceritakan tentang <em>special tools</em> yang perlu dibuat dan langkah-langkah selanjutnya.
<p>&nbsp;</p>
  <em>Manglayang Farm. 2009.</em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2009/09/24/pagar-high-tensile-smooth-wire-1/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pagar, Titik Penting Peternakan Sistem Ranching</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2009/07/12/pagar-titik-penting-peternakan-sistem-ranching/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2009/07/12/pagar-titik-penting-peternakan-sistem-ranching/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 14:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Scrapbook</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2009/07/12/pagar-titik-penting-peternakan-sistem-ranching/</guid>
		<description><![CDATA[	


  
	
Pemagaran padang gembala secara tradisional dengan bambu, from forage
  
  
	Pada peternakan dengan model semi intensif, penggembalaan atau ranching, pagar atau pemagaran merupakan sebuah titik yang penting. Selain membatasi ternak dengan dunia luar, pagar juga dapat digunakan untuk melindungi sumber daya penting di dalam maupun di luar kawasan ternak seperti kebun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<table border="0" align="center">
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/in20Ni3OBEa0C2peYVl8Vg?feat=embedwebsite"><img border="0" align="middle" src="http://lh6.ggpht.com/_Tidm7_-IIMw/Slnrkw1NgLI/AAAAAAAAAMg/DiHmbVoGOyw/s400/manglayang_pasture.jpg" /></a></td>
  </tr>
	<tr>
<td>Pemagaran padang gembala secara tradisional dengan bambu, from <a href="http://picasaweb.google.com/manglayang/Forage?feat=embedwebsite">forage</a></td>
  </tr>
  </table>
	<p>Pada peternakan dengan model semi intensif, penggembalaan atau <em>ranching</em>, pagar atau pemagaran merupakan sebuah titik yang penting. Selain membatasi ternak dengan dunia luar, pagar juga dapat digunakan untuk melindungi sumber daya penting di dalam maupun di luar kawasan ternak seperti kebun rumput, kebun sayuran, sumber air, kawasan gudang dan kawasan-kawasan lain yang diharapkan tidak dijamah oleh ternak. Sekaligus pagar juga dibuat untuk melindungi ternak terhadap gangguan dari luar, seperti pencurian ternak ataupun serangan predator. Dengan pemagaran, seorang peternak dapat membuat sistem gang untuk memudahkan manajemen ternak. </p>
	<p>Begitu banyak dan penting manfaat dari pagar, namun seringkali masalah ini tidak dilihat secara serius. Padahal investasi pagar ini boleh jadi merupakan investasi termahal setelah biaya pembelian ternak itu sendiri. Pada peternakan skala kecil, peternak memang jarang membutuhkan pagar karena ternak dipelihara secara intensif di dalam kandang. Namun berdasarkan kondisi di lapangan yang dirasakan oleh kami, pembangunan padang rumput dan penerapan metoda penggembalaan dirasakan sangat efisien dalam hal biaya pakan terutama untuk ternak yang sedang menunggu masa produksi seperti pedet remaja. Dengan manajemen padang penggembalaan (<em>grazing area</em>) yang baik, biaya pakan lebih dapat ditekan apabila dibandingkan dengan penanaman rumput pakan ternak secara monokultur dan pemeliharaan di dalam kandang (<em>cut and carry system</em>) seperti banyak diterapkan peternak skala rakyat di Jawa Barat. <br /><a id="more-84"></a>   Bila diperhatikan di negara lain yang maju dengan peternakan sistem <em>ranching</em> seperti Australia dan Selandia Baru, rasa-rasanya memang salah satu keterbatasan dalam penerapan <em>ranching</em> ini adalah kendala soal lahan. </p>
	<p>Jawa Barat dikaruniai Tuhan alam yang cantik dan tanah yang subur sebagai hasil dari kegiatan vulkanik gunung-gunung berapi. Sehingga sebagian besar lahan yang subur ini menjadi terlalu berharga apabila digunakan hanya untuk penggembalaan ternak. Disamping itu kepemilikan lahan sebagian besar peternak skala rakyat juga menjadi masalah tersendiri. Peternak kita jarang yang memiliki lahan luas, sehingga lahan yang dimiliki tentu akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk berbagai keperluan.   </p>
	<p>Namun demikian bukan berarti masalah pagar menjadi hal yang harus diabaikan. <br />   Kami mencoba beberapa sistem manajemen penggembalaan (meskipun masih skala kecil) untuk mendukung tata peternakan yang lebih efisien terutama dalam soal pakan. Dalam perkembangannya, praktik penggembalaan ternyata juga mendukung kesehatan ternak. Dibandingkan dengan ternak yang selalu dikurung di dalam kandang, kami melihat bahwa ternak yang sesekali digembalakan (<em>diabur; bhs sunda</em>) ternyata lebih sehat dan terlihat <em>happy</em>. Kami memiliki anak sapi hasil kawin sedarah (<em>inbreed</em>) yang selalu mengalami kejang-kejang pada masa awal kelahiran di dalam kandang, namun setelah dilepas di padang penggembalan terlihat lebih sehat dan tidak pernah lagi kejang. Demikian juga untuk sapi yang akan melahirkan, kami sesekali membawa sapi-sapi induk ini ke luar kandang agar dapat merumput dengan bebas. Hasilnya, proses kelahiran anak sapi lebih mudah. Belakangan kami juga mencoba proses kelahiran yang dilakukan di luar kandang dan tidak dibantu oleh peternak. Ini juga terlihat berhasil baik.<br /> Pada sapi-sapi pedet dan remaja kami juga membuatkan sebuah <em>paddock </em>kecil diantara pepohonan agar mereka dapat bermain dan merumput dengan bebas. </p>
	<p>Untuk pembuatan <em>paddocks</em> ini tentu dibutuhkan pagar. Dan ternyata investasi di bidang pagar ini memang cukup tinggi. Dengan menggunakan bambu memang dapat didapatkan pagar yang cukup murah namun daya tahan dan kehandalannya seringkali membuat biaya pemeliharaan menjadi juga besar. Pagar bambu (tidak dilakukan treatment) hanya dapat bertahan kurang lebih 1.5 tahun saja. Setelah dihitung-hitung, biaya untuk pagar bambu dengan tinggi 1 meter saja kurang lebih Rp. 10.000 per meter lari. <br /> Untuk itu kami sedang mencoba melakukan eksperimen pembuatan pagar dengan model <em>high-tensile wire</em> dan <em>electric fencing</em> yang kami yakini <em>memberikan hasil yang lebih baik, sekaligus berbiaya lebih murah bila dibandingkan dengan daya tahan. <br /> </em></p>
	<p><em>Mudah-mudahan pada artikel selanjutnya kami dapat mendokumentasikan eksperimen pagar high-tensile wire yang kami lakukan. </em></p>
	<p><em>Semoga bermanfaat. <br /> </em></p>
 <em>  </em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2009/07/12/pagar-titik-penting-peternakan-sistem-ranching/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bibit Pohon Kayu Keras</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2009/06/13/jual-bibit-pohon-kayu-keras/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2009/06/13/jual-bibit-pohon-kayu-keras/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 04:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Produk</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2009/06/13/jual-bibit-pohon-kayu-keras/</guid>
		<description><![CDATA[	Bekerja sama dengan penangkar benih di beberapa kawasan, kami menyediakan berbagai macam bibit dan benih pohon dan tanaman kehutanan. Benih yang tersedia baik biji maupun seedling di dalam polybag dapat berdasarkan pesanan dan ketersediaan sesuai musim.  Benih ini ditujukan kepada para kolektor tanaman kayu, peneliti, pemilik kebun yang ingin menghijaukan lahannya maupun program penanaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Bekerja sama dengan penangkar benih di beberapa kawasan, kami menyediakan berbagai macam bibit dan benih pohon dan tanaman kehutanan. Benih yang tersedia baik biji maupun <em>seedling</em> di dalam polybag dapat berdasarkan pesanan dan ketersediaan sesuai musim.<br />  Benih ini ditujukan kepada para kolektor tanaman kayu, peneliti, pemilik kebun yang ingin menghijaukan lahannya maupun program penanaman dan penghijauan di berbagai daerah.</p>
	<p>Tidak semua tanamanyang daftarnya dapat dilihat pada tulisan di bawah ini tersedia stoknya. Untuk konfirmasi dan pemesanan silahkan menghubungi <a href="http://manglayang.blogsome.com/kontak-kami/" target="_self" title="Kontak Kami">kami </a>terlebih dahulu. </p>
       <a id="more-83"></a>
<p><strong>Koleksi Bibit/ Benih Tanaman Kayu Keras<br />          Lokasi: Bandung Utara<br />          </strong></p>
	<table cellspacing="0" cellpadding="0" border="1" width="">
<tr height="17">
<td height="17" align="center" width="35" class="xl24"><strong>No</strong></td>
	<td valign="top"></td>
	<td align="center" width="183" class="xl24"><strong>Spesies</strong></td>
	<td align="center" width="230" class="xl24"><strong>Nama Lokal</strong></td>
	<td align="center" width="169" class="xl24"><strong>Asal</strong></td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">1</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24">&nbsp;<em>Adenanthera   microsprema</em></td>
	<td class="xl24">Saga Pohon</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">2</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>&nbsp;Agathis dammara</em></td>
	<td class="xl24">Damar</td>
	<td class="xl24">Maluku</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">3</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>&nbsp;Anthocephalus   chinensis/ A. cadamba<br />     </em></td>
	<td class="xl24">Kelampaian, Jabon,   Hanja</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">4</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Calliandra   callothrysus</em></td>
	<td class="xl24">Kaliandra</td>
	<td class="xl24">Gulana</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">5</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Calophyllum   inophyllum</em></td>
	<td class="xl24">Nyamplung</td>
	<td class="xl24">&nbsp;</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">6</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Calophyllum soulattri</em></td>
	<td class="xl24">Sulatri, Bintangur</td>
	<td class="xl24">Jawa Barat</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">7</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Cananga odorata</em></td>
	<td class="xl24">Kenanga</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">8</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Casia   siamea&nbsp;</em></td>
	<td class="xl24">Johar, juar</td>
	<td class="xl24">Asia tenggara,   Filipina</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">9</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Casuarina sumatrana</em></td>
	<td class="xl24">Cemara Sumatera</td>
	<td class="xl24">Burma, Malaya Barat</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">10</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Cedrela mexicana</em></td>
	<td class="xl24">Cedar honduras, Suren   Mexico</td>
	<td class="xl24">Amerika tengah</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">10</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Cerbera odollam</em></td>
	<td class="xl24">Bintaro</td>
	<td class="xl24">Asia, Australia, Madagascar</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">11</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Cinnamomun burmani<br />     </em></td>
	<td class="xl24">Kayu manis</td>
                    </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">11</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Cinnamomun   parthenoxylon/ C. porrectum<br />     </em></td>
	<td class="xl24">Ki Sereh, Ki Pedes</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">12</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Dipterocarpus retusus</em></td>
	<td class="xl24">Keruing Gunung,   Palahlar</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">13</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Dipterocarpus   trinervis</em></td>
	<td class="xl24">Keruing, Palahlar</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">14</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Enterolobium   cyclocarpum</em></td>
	<td class="xl24">Sengon Buto</td>
	<td class="xl24">Jamaica</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">15</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Eucalyptus alba reinw</em></td>
	<td class="xl24">Ampupu, Kayu putih</td>
	<td class="xl24">Timor</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">16</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Eucalyptus citriodora</em></td>
	<td class="xl24">Lemon scented spoted   gum</td>
	<td class="xl24">Australia</td>
            </tr>
	<tr>
<td valign="top">17</td>
	<td valign="top"></td>
	<td valign="top"><em>Eucalyptus deglupta</em></td>
	<td valign="top">Ampupu</td>
	<td valign="top"></td>
</tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">18</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Ficus Benjamina</em></td>
	<td class="xl24">Beringin, Caringin</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">19</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Fragrea Fragrans</em></td>
	<td class="xl24">Tembesu, Ki Endog</td>
	<td class="xl24">Sumatera, Asia Darat</td>
            </tr>
	<tr>
<td valign="top">20</td>
	<td valign="top"></td>
	<td valign="top"></td>
	<td valign="top"></td>
	<td valign="top"></td>
</tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">21</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Gluta renghas</em></td>
	<td class="xl24">Rengas</td>
	<td class="xl24">Indonesia</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">22</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Guazuma ulmifolia</em></td>
	<td class="xl24">Jati belanda</td>
	<td class="xl24">Belanda</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">23</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Hopea odorata</em></td>
	<td class="xl24">Cengal pasir, Bangei   Kampong</td>
	<td class="xl24">Burma</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">24</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Jacaranda filicifolia</em></td>
	<td class="xl24">Jacaranda, Jakaranda</td>
	<td class="xl24">Amerika Selatan</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">25</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Khaya anthotheca</em></td>
	<td class="xl24">Mahoni   Uganda&nbsp;</td>
	<td class="xl24">Afrika tropis</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">26</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Kigelia aetilopica</em></td>
	<td class="xl24">Sosis</td>
	<td class="xl24">Afrika tropis</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">27</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Labizia procera</em></td>
	<td class="xl24">Ki Hiang</td>
	<td class="xl24">Jawa, Madura</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">28</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Lagerstoemia   ovalifolia</em></td>
	<td class="xl24">Bungur Daun Kecil,   Benger</td>
	<td class="xl24">Jawa Barat</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">29</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Lagerstroernia   loudoni</em></td>
	<td class="xl24">Bungur</td>
	<td class="xl24">Siam</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">30</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Litsea cubeba</em></td>
	<td class="xl24">Ki Lemo, Krangeyan</td>
	<td class="xl24">China, Indonesia, Taiwan</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">31</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Maesospsis eminii</em></td>
	<td class="xl24">Kayu Afrika, Manii,   Sopsis</td>
	<td class="xl24">Afrika tropis</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">32</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Melia azedarach</em></td>
	<td class="xl24">Mindi</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">33</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Palaguium   obtusifolium/ P. amboinense</em></td>
	<td class="xl24">Nantu, Sawo Sulawesi</td>
	<td class="xl24">Sulawesi</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">34</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Persea americana</em></td>
	<td class="xl24">Alpukat</td>
	<td class="xl24">Amerika tengah</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">35</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Pinus merkusii</em></td>
	<td class="xl24">Tusam, Pinus</td>
	<td class="xl24">Sumatera</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">36</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Pinus montezumae</em></td>
	<td class="xl24">Tusam Meksiko</td>
	<td class="xl24">Meksiko</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">37</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Pometia pinnata</em></td>
	<td class="xl24">Kasai daun kecil,   Langsir, Matoa Jawa</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">38</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Pterigota alata</em></td>
	<td class="xl24">Kasah</td>
	<td class="xl24">India</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">39</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Pterocymbium sp.</em></td>
	<td class="xl24">Tongtolok, Kelumbuk,   Beurih</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">40</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Pterospermum   celebicum</em></td>
	<td class="xl24">Bayur Sulawesi</td>
	<td class="xl24">Sulawesi</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">41</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Pterospermum indicum</em></td>
	<td class="xl24">Angsana</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">42</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Pterygota hoesfieldii</em></td>
	<td class="xl24">Kolentang, Tongtolok</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">43</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Samanea saman/ Albizia saman</em></td>
	<td class="xl24">Ki Hujan, Trembesi</td>
	<td class="xl24">Amerika Tropis</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">44</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Scizolobium exceisum</em></td>
	<td class="xl24">Ki Oray</td>
	<td class="xl24">Amerika Selatan</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">45</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Shorea leprosula</em></td>
	<td class="xl24">Meranti Tembaga</td>
	<td class="xl24">Sumatera, Bangka</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">46</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Sterculia urceolata</em></td>
	<td class="xl24">Kelumpang Hutan,   Hantap</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">47</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Styrax benzoin</em></td>
	<td class="xl24">Kemenyan, Ki Menyan</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">48</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Swietenia macrophylla</em></td>
	<td class="xl24">Mahoni daun besar</td>
	<td class="xl24">Honduras</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">49</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Taxodium mucronatum</em></td>
	<td class="xl24">Cemara Mexico</td>
	<td class="xl24">Meksiko</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">50</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Terminalia bellirica</em></td>
	<td class="xl24">Jaha</td>
	<td class="xl24">Jawa</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">51</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Terminalia kaembachii</em></td>
	<td class="xl24">Ketapang</td>
	<td class="xl24">Irian</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">52</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Toona sureni</em></td>
	<td class="xl24">Surian, Suren</td>
	<td class="xl24">Malaya</td>
            </tr>
	<tr height="17">
<td height="17" align="center" class="xl24">53</td>
	<td valign="top"></td>
	<td class="xl24"><em>Tristiropsis   canarioides</em></td>
	<td class="xl24">Ki Hoe</td>
	<td class="xl24">Jawa, Irian</td>
            </tr>
           </table>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>Untuk koleksi bibit tanaman keras di penangkaran Bandung Timur dapat melihat pranala berikut:<br />          <a target="_self" href="http://manglayang.blogsome.com/bibit-pohon-kareumbi-2008/%20">http://manglayang.blogsome.com/bibit-pohon-kareumbi-2008/</a>           </p>
          <br /> 
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2009/06/13/jual-bibit-pohon-kayu-keras/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Membuat Alat Penetas Telur Sederhana #1</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2009/04/17/membuat-alat-penetas-telur-sederhana-1/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2009/04/17/membuat-alat-penetas-telur-sederhana-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 05:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
	<category>Scrapbook</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2009/04/17/membuat-alat-penetas-telur-sederhana-1/</guid>
		<description><![CDATA[	


      
	
Kotak Inkubator  From Alat Pengeram Telur Sederhana
      
      
	&nbsp;
	Artikel kali ini menceritakan tentang percobaan pembuatan alat pengeram telur sangat sederhana. Kami memerlukan alat ini untuk mencoba menetaskan telur burung Merak hijau (Pavo muticus).  
	Alat pengeram/ penetas telur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<table border="1" align="center">
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.com/manglayang/AlatPenetasTelurSederhana?feat=embedwebsite#5325531973911690738"><img border="0" align="middle" src="http://lh3.ggpht.com/_Tidm7_-IIMw/SegXHUj9vfI/AAAAAAAAAKI/C9g31NlgTvs/s288/incubator%20SS.jpg" /></a></td>
      </tr>
	<tr>
<td>Kotak Inkubator<br />  From <a href="http://picasaweb.google.com/manglayang/AlatPenetasTelurSederhana?feat=embedwebsite">Alat Pengeram Telur Sederhana</a></td>
      </tr>
      </table>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>Artikel kali ini menceritakan tentang percobaan pembuatan alat pengeram telur sangat sederhana. Kami memerlukan alat ini untuk mencoba menetaskan telur burung Merak hijau (<em>Pavo muticus</em>).  </p>
	<p>Alat pengeram/ penetas telur atau <em>egg incubator</em> bertenaga listrik ini cukup sederhana dan mudah dibuat. Namun kami juga belum tahu apakah inkubator ini sukses menetaskan telur atau tidak karena penetasan telur itu ternyata memiliki beberapa faktor yang menentukan. Namun setidaknya prinsip-prinsip dasar penetasan telur coba kami terapkan pada alat sederhana ini dengan harapan kami bisa mulai belajar mengenai soal penetasan telur.</p>
	<p>Artikel ini sekadar sebagai dokumentasi kegiatan yang telah dilakukan. Ada beberapa kekurangan dalam disain yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian yang sedang mencari informasi pembuatan pengeram. Hati-hati bila anda ingin membuatnya karena perangkat ini terhubung langsung dengan jala-jala listrik rumah yang bila tersetrum tentu rasanya tidak menyenangkan:) </p>
	<p>Selamat membaca. </p>
          <a id="more-82"></a>
<p><strong>Disain</strong></p>
	<p>Langkah awal seperti biasa adalah studi literatur, mengumpulkan beberapa contoh disain inkubator, prinsip penetasan dan &#8216;menengok&#8217; alat yang dijual di sebuah toko unggas (<em>poultry shop</em>) di kota Bandung. <br />           Di Internet banyak contohnya, mulai dari yang sangat sederhana hanya berupa kotak kardus sampai yang cukup canggih berkapasitas ratusan telur dan dilengkapi dengan pembalik telur otomatis. Ada artikel yang cukup komprehensif soal tetas menetas ini dari <a title="Penetas Telur Glory Farm" target="_self" href="http://www.glory-farm.com/ptetas_mesin/mesin_tetas.htm">Glory Farm</a> (hallo Glory Farm, artikel anda kami link disini ya, terima kasih atas tulisan yang bagus).           </p>
	<p>Sederhananya, sebuah alat inkubator telur akan terdiri dari:</p>
	<ol>
<li>Kotak inkubator           </li>
	<li>Pemanas (<em>heater</em>)</li>
	<li>Kontrol temperatur (<em>thermocontrol</em> atau <em>thermostat</em>)</li>
	<li>Penunjuk suhu (<em>thermometer</em>) dan penunjuk kelembaban           </li>
	<li>Rak untuk menyimpan telur           </li>
           </ol>
	<p>Alat penetas dual power (minyak tanah dan listrik) yang tersedia di toko lokal di Bandung berkapasitas 100 butir seharga Rp. 850.000 menggunakan <em>thermocontrol</em> sederhana. Berbentuk dua lempeng sensor panas (wafel) yang akan mengembang dan menekan saklar untuk memutus arus listrik. Mereka juga menjual sensor tersebut secara terpisah seharga Rp. 72.000. Kekurangan sensor wafel ini adalah <em>tuning </em>yang relatif lebih rumit, serta jangkauan suhu yang tidak bisa terlalu tinggi.           </p>
	<p>Untuk itu, kami tidak membutuhkan penetas dengan kapasitas besar. Kapasitas 5 telur pun sudah cukup. Sayangnya di pasaran lokal nampaknya tidak tersedia alat dengan kapasitas kecil. Sehingga kami memutuskan untuk mencoba membuatnya sendiri.</p>
	<p>Parameter untuk telur <em>peafowl </em>yang kami dapatkan dari literatur internet beberapa hobiis di luar negeri adalah:</p>
	<ul>
<li>Suhu inkubasi 99&deg;F - 100&deg;F atau sekitar 37.2&deg;C - 37.8&deg;C (<em>dry bulb</em>).</li>
	<li>Kelembaban pengeraman 60% atau 86&deg;F - 87&deg;F temperatur (<em>wet bulb</em>)</li>
	<li>Inkubasi 26 hari plus penetasan 2 - 3 hari.</li>
	<li>Pembalikan telur minimal 2x sehari.            </li>
           </ul>
	<p><strong>Alat dan Bahan </strong>           </p>
	<ol>
<li>Thermocontrol<br />           Setelah menimbang-nimbang, kami memilih <em>thermocontrol </em>yang sedikit lebih canggih. Harganya memang lebih mahal, namun tentu terlihat lebih keren <img src='http://manglayang.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Memiliki sensor termokopel terpisah dan <em>dial potensiometer </em>untuk <em>tuning </em>suhu yang diinginkan. Rentang suhu 2&deg;C, dengan kemampuan sampai 110&deg;C. Belakangan agak nyesel juga, buat apa suhu setinggi ini hehe. Di pasaran tersedia juga tipe yang memiliki kemampuan dial hanya 50&deg;C. Rasanya yang ini lebih cocok karena tuning suhu akan lebih mudah. Tapi apa boleh buat, yang 110&deg; sudah dibeli.</p>
	<p>           Dengan <em>thermocontrol </em>model ini kami dapat dengan mudah memindahkan dan men-set suhunya bila ingin digunakan pada peralatan lain, misalnya inkubator yogurt <img src='http://manglayang.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . <br />           Selain itu di pasaran ada juga model digital dengan beragam fitur dengan harga yang lebih mahal.</p>
	<table border="1" align="center">
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.com/manglayang/AlatPenetasTelurSederhana?feat=embedwebsite#5325531975465618050"><img border="0" src="http://lh6.ggpht.com/_Tidm7_-IIMw/SegXHaWcyoI/AAAAAAAAAJ4/01ga3FHbot8/s288/dial%20knob%20thermocontrol.jpg" /></a></td>
       </tr>
	<tr>
<td>Dial Knob Thermocontrol<br />  From <a href="http://picasaweb.google.com/manglayang/AlatPenetasTelurSederhana?feat=embedwebsite">Alat Penetas Telur Sederhana</a></td>
       </tr>
       </table>
                      </li>
	<li>Elemen pemanas<br />           Elemen pemanas digunakan untuk menaikkan suhu di dalam ruangan temperatur sampai suhu yang dikehendaki.<br />           Ada beberapa alternatif murah yang bisa dibuat. Yang mudah adalah dengan menggunakan bohlam lampu. Perambatan panas dari pijar bola lampu akan menghangatkan ruangan. Kekurangannya adalah daya rambat panas yang cenderung lambat. Selain itu untuk kotak seperti yang kami buat, kami kesulitan menemukan bola lampu yang pas dayanya. Yang kami coba, 25 watt terlalu rendah (sekitar 34&deg;C), 60 watt terlalu tinggi (&plusmn; 41&deg;C).
	<p>           Untuk itu kami menggunakan elemen pemanas yang biasa digunakan pada kompor listrik. Elemen dengan daya maksimal 300 watt berbentuk spiral kecil yang bisa ditarik dan dirangkai ini murah meriah dan mampu merambatkan panas dengan cepat.</p>
	<table border="1" align="center">
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.com/manglayang/AlatPenetasTelurSederhana?feat=embedwebsite#5325531972828034482"><img border="0" src="http://lh4.ggpht.com/_Tidm7_-IIMw/SegXHQhmdbI/AAAAAAAAAKA/bVMgpYHrET0/s288/elemen%20heater.jpg" /></a></td>
     </tr>
	<tr>
<td>Elemen Pemanas<br />  From <a href="http://picasaweb.google.com/manglayang/AlatPenetasTelurSederhana?feat=embedwebsite">Alat Penetas Telur Sederhana</a></td>
     </tr>
     </table>
               </li>
	<li>Perkabelan, dudukan lampu, bohlam dan saklar<br />           Lampu didalam inkubator rencananya kami gunakan selain sebagai penerang, juga untuk lebih mempertahankan suhu. Lampu ini terhubung dengan saklar tersendiri sehingga bisa dihidup matikan terpisah dengan elemen pemanas. Selain itu juga berfungsi sebagai <em>backup</em> manakala elemen pemanas putus. Berbagai peralatan kelistrikan ini untungnya tersedia di gudang sebagai sisa-sisa eksperimen yang lalu.
	</li>
	<li>Kotak Inkubator<br />           Kotak berukuran tinggi 50cm, lebar 24cm dan panjang 30cm dari bahan MDF ini merupakan kotak ex mainan anak yang kami temukan di gudang. Kami hanya menambahkan pintu dari bahan multiplex dan engselnya.
	</li>
	<li>Alat kontrol Suhu dan Kelembaban<br />           Thermometer sederhana dapat digunakan di dalam inkubator. Toko penyedia peralatan medis biasanya memiliki. Ada yang model air raksa/ mercury dilapis dengan papan multi (&plusmn; Rp. 10.000) atau model batang (Rp. 12.500). Yang perlu diketahui thermometer yang biasa ini adalah alat untuk mengukur udara kering (<em>dry bulb</em>). Sedangkan untuk kelembaban kita juga harus memiliki thermometer untuk mengukur udara basah (<em>wet bulb</em>). Sayangnya kami belum menemukan thermometer wet bulb yang cukup ringkas untuk masuk dalam kotak inkubator kami. <br />           Selain menggunakan <em>wet bulb thermometer</em>, pengukuran kelembaban bisa menggunakan hygrometer, namun sayangnya harganya lebih mahal. Penulis menemukan unit hygrometer yang cukup representatif harganya mencapai Rp. 200.000.<br />           Kelembaban adalah faktor yang sangat penting bagi pertumbuhan embrio ayam, terutama saat menetas karena berhubungan dengan kondisi kering tidaknya kulit telur dan penguapan.<br />           Yang harus diperhatikan adalah pengukuran dilakukan di berbagai sudut didalam inkubator, hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian &quot;<em>tuning</em>&quot;.&nbsp;
	</li>
           </ol>
	<p>Prinsip-prinsip dasar penetasan nampaknya sama untuk semua jenis telur. <br />           Pada artikel berikutnya kami akan ceritakan skema dan cara merangkai alat-alat tersebut.           </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2009/04/17/membuat-alat-penetas-telur-sederhana-1/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Program Konservasi Wali Pohon Masigit Kareumbi</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2008/12/16/program-konservasi-wali-pohon-masigit-kareumbi/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2008/12/16/program-konservasi-wali-pohon-masigit-kareumbi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 12:36:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Berita</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2008/12/16/program-konservasi-wali-pohon-masigit-kareumbi/</guid>
		<description><![CDATA[	Apakah Masigit Kareumbi?  
	Masigit - Kareumbi adalah nama wilayah yang meliputi beberapa gunung disebelah utara Cicalengka, Jawa Barat yang termasuk ke dalam wilayah administrasi tiga kabupaten yaitu kabupaten Bandung, kabupaten Garut dan kabupaten Sumedang. Melalui surat keputsan&nbsp; Menteri Pertanian, No 297/Kpts/Um/5/1976 tanggal 15 Mei 1976 kawasan seluas 12.420,70 Ha ini telah ditunjuk sebagai Taman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Apakah Masigit Kareumbi? </strong> </p>
	<p>Masigit - Kareumbi adalah nama wilayah yang meliputi beberapa gunung disebelah utara Cicalengka, Jawa Barat yang termasuk ke dalam wilayah administrasi tiga kabupaten yaitu kabupaten Bandung, kabupaten Garut dan kabupaten Sumedang. Melalui surat keputsan&nbsp; Menteri Pertanian, No 297/Kpts/Um/5/1976 tanggal 15 Mei 1976 kawasan seluas 12.420,70 Ha ini telah ditunjuk sebagai Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK). <br /> Sejak akhir 2008, berdasarkan surat keputusan bersama antara Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam, BKSDA Jabar dan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, Wanadri, TBMK dikelola secara kemitraan. Untuk keperluan pengaturan dan administrasi, maka dibentuklah tim yang disebut tim Manajemen Pengelola Kawasan Konservasi Masigit Kareumbi. </p>
<strong>Kenapa Masigit Kareumbi? </strong>
<p>Kawasan Masigit Kareumbi merupakan hulu dan mata air dari beberapa anak sungai yang bermuara ke sungai Citarum. Sungai Citarum sendiri adalah sungai besar yang berhulu di gunung Wayang, kabupaten Bandung. Aliran Citarum membelah kota Bandung dan bermuara di Muaragembong, Bekasi. Sungai dengan panjang 269 km ini menjadi sungai yang sangat penting, tidak saja bagi Jawa Barat namun juga nasional. Citarum memiliki peran yang kritis. Tiga PLTA besar, Jatiluhur, Cirata dan Saguling mengandalkan sungai ini untuk kelangsungan pembangkit listriknya. Demikian juga sekira 11 juta jiwa yang berdiam di sepanjang DAS Citarum. <br />Tidak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa terdegradasinya kawasan Masigit Kareumbi memiliki peran terhadap terjadinya berbagai bencana di kawasan ini sekitar sungai Citarum.</p>
	<p><strong>Apa itu Wali Pohon?</strong></p>
	<p>Kegiatan Wali Pohon Masigit Kareumbi membuka ruang kepada publik dan khalayak umum untuk dapat berperan aktif dalam kegiatan konservasi lingkungan di wilayah ini sebagai orang tua asuh dari pohon yang ditanam. Selayaknya orang tua asuh maka berkewajiban untuk membiayai setiap pohon yang menjadi anaknya, sampai pohon dapat hidup mandiri. </p>
	<p>Untuk informasi lebih lengkap, <a href="http://manglayang.blogsome.com/program-konservasi-masigit-kareumbi" target="_self" title="Program Konservasi Wali Pohon Masigit - Kareumbi">silahkan unduh beberapa dokumen Wali Pohon Masigit - Kareumbi</a>. </p>
	<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2008/12/16/program-konservasi-wali-pohon-masigit-kareumbi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Poster Standar Pemberian Pakan Sapi Perah</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2008/11/20/poster-standar-pemberian-pakan-sapi-perah/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2008/11/20/poster-standar-pemberian-pakan-sapi-perah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 06:25:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Scrapbook</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2008/11/20/poster-standar-pemberian-pakan-sapi-perah/</guid>
		<description><![CDATA[	 

&nbsp;

	&nbsp;Poster Standar Pemberian Pakan Sapi Perah (1024x654 pixels)
	&nbsp;
	Pakan menurut kami menempati urutan tertinggi dalam prioritas kehidupan ternak. Makanan sehat maka badan kuat (dan produksi pun diharapkan tinggi). Sehingga biaya pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam perawatan ternak. Pengalaman kami komposisi biaya pakan dari seluruh biaya pemeliharaan seringkali bisa lebih dari 70%. 
	Poster ini, sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><!--[if gte mso 9]><xml>  <w :WordDocument>   </w><w :View>Normal</w>   <w :Zoom>0</w>   <w :PunctuationKerning/>   <w :ValidateAgainstSchemas/>   <w :SaveIfXMLInvalid>false</w>   <w :IgnoreMixedContent>false</w>   <w :AlwaysShowPlaceholderText>false</w>   <w :Compatibility>    <w :BreakWrappedTables/>    <w :SnapToGridInCell/>    <w :WrapTextWithPunct/>    <w :UseAsianBreakRules/>    <w :DontGrowAutofit/>    <w :UseFELayout/>   </w>   <w :BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w>   </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <w :LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156">  </w> </xml>< ![endif]--> <!--[if gte mso 10]> <style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&#8221;"; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} </style> < ![endif]--><br />
<div align="justify">
<p class="MsoNormal"><a target="_self" href="http://farm4.static.flickr.com/3224/3044548099_7dc593491c_b.jpg"><img width="240" vspace="5" hspace="5" height="153" border="1" align="absmiddle" title="Poster Standar Pemberian Pakan Sapi Perah" alt="Poster Standar Pemberian Pakan Sapi Perah" src="http://farm4.static.flickr.com/3224/3044548099_7dc593491c_m.jpg" /></a>&nbsp;</p>
</div>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;Poster Standar Pemberian Pakan Sapi Perah (1024x654 pixels)</p>
	<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
	<p class="MsoNormal">Pakan menurut kami menempati urutan tertinggi dalam prioritas kehidupan ternak. Makanan sehat maka badan kuat (dan produksi pun diharapkan tinggi). Sehingga biaya pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam perawatan ternak. Pengalaman kami komposisi biaya pakan dari seluruh biaya pemeliharaan seringkali bisa lebih dari 70%. </p>
	<p>Poster ini, sama dengan poster sebelumnya, <a title="Poster Manajemen Pembesaran Sapi Perah Muda" target="_self" href="http://manglayang.blogsome.com/2006/03/14/poster-manajamen-pembesaran-sapi-muda/">Poster Manajemen Pembesaran Sapi Perah Muda</a>, juga bersumber dari publikasi hasil kerjasama Dinas Peternakan Jawa Barat dan JICA.&nbsp; </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2008/11/20/poster-standar-pemberian-pakan-sapi-perah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bibit Tanaman Kayu - Kareumbi 2008</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2008/10/15/bibit-tanaman-kayu-kareumbi-2008/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2008/10/15/bibit-tanaman-kayu-kareumbi-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 06:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Produk</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2008/10/15/bibit-tanaman-kayu-kareumbi-2008/</guid>
		<description><![CDATA[	Bekerja sama dengan Kelompok Petani Pembibit di sekitar Gunung Kareumbi-Masigit saat ini kami tengah melakukan pembibitan beberapa jenis tanaman / pohon kayu. Selain untuk kebutuhan penghijauan dan penanaman hutan rakyat di sekitar lokasi, bibit pohon ini juga dapat dibeli oleh masyarakat umum yang membutuhkan.
	Untuk tahun ini baru sekitar 20 jenis pohon yang mulai kami bibitkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img width="115" vspace="5" hspace="5" height="156" border="1" align="left" src="http://lh4.ggpht.com/manglayang/SPWGDri8taI/AAAAAAAAAGM/QNeddEIk3gg/pohon.jpg" />Bekerja sama dengan Kelompok Petani Pembibit di sekitar Gunung Kareumbi-Masigit saat ini kami tengah melakukan pembibitan beberapa jenis tanaman / pohon kayu. <br />Selain untuk kebutuhan penghijauan dan penanaman hutan rakyat di sekitar lokasi, bibit pohon ini juga dapat dibeli oleh masyarakat umum yang membutuhkan.</p>
	<p>Untuk tahun ini baru sekitar 20 jenis pohon yang mulai kami bibitkan dan mudah-mudahan pada musim hujan yang sedang kita jelang ini, semua tanaman sudah siap tanam.</p>
	<p>Mohon diperhatikan bahwa semua bibit yang disediakan ini berasal dari&nbsp;pembibitan masyarakat dan TIDAK DISERTIFIKASI. Berikut daftar tanaman yang ada di kebun pembibitan Kareumbi.</p>
	<p>1.&nbsp; Manglid (Manglietia glauca)<br />2.&nbsp; Surian (Toona sureni)&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br />3.&nbsp; Pinus (Pine merkusii)<br />4.&nbsp; Puspa&nbsp; (Scima wallichii)<br />5.&nbsp; Kopi Kate / Kartika (Coffee arabica var. Kartika)<br />6.&nbsp; Kopi Robusta (Cofee robusta)<br />7.&nbsp; Alpukat (Persea americana)<br />8.&nbsp; Kawung / aren / enau (Arenga pinnata)<br />9.&nbsp; Salam (Eugenia polyantha) <br />10. Rasamala (Altingia excelsa) <br />11. Mahoni (Swietenia macrophylla) <br />12. Jati Putih (Gmelina arborea)<br />13. Afrika / Misobsis (Maesopsis eminii)<br />14. Tisuk (Hibiscus macrophyllus)<br />15. Pohon Kayu Rimba campuran</p>
	<p>Daftar pohon beserta update gambar dan keterangan lain bisa dilihat di:<br /><a href="http://manglayang.blogsome.com/bibit-pohon-kareumbi-2008/" target="_self">http://manglayang.blogsome.com/bibit-pohon-kareumbi-2008/</a></p>
	<p>Bagi rekan-rekan yang akan melakukan penanaman pohon / penghijauan dan sekiranya membutuhkan bibit-bibit tanaman diatas dapat menghubungi <a href="http://manglayang.blogsome.com/kontak-kami/" target="_self">kami</a>.</p>
	<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2008/10/15/bibit-tanaman-kayu-kareumbi-2008/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>SURAT PEMBACA: Pertanian Organik vs Pabrikasi Pupuk Organik</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2008/04/15/surat-pembaca-pertanian-organik-vs-pabrikasi-pupuk-organik/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2008/04/15/surat-pembaca-pertanian-organik-vs-pabrikasi-pupuk-organik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 18:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2008/04/15/surat-pembaca-pertanian-organik-vs-pabrikasi-pupuk-organik/</guid>
		<description><![CDATA[	Pengantar dari pengasuh Manglayang Farm Online  Tulisan ini dikirimkan melalui email ke alamat pengasuh, dan pesan beliau mohon namanya disamarkan saja apabila tulisan ini akan dimuat di blog atau milis. Tulisan ini sudah mengalami penyuntingan beberapa tanda baca dan kesalahan ketik (walaupun tidak menghilangkan semua kesalahan ketik).
	 Selamat membaca dan silahkan tuliskan komentar anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><em>Pengantar dari pengasuh Manglayang Farm Online<br /> </em><br /> Tulisan ini dikirimkan melalui email ke alamat pengasuh, dan pesan beliau mohon namanya disamarkan saja apabila tulisan ini akan dimuat di blog atau milis. Tulisan ini sudah mengalami penyuntingan beberapa tanda baca dan kesalahan ketik (walaupun tidak menghilangkan semua kesalahan ketik).</p>
	<p> Selamat membaca dan silahkan tuliskan komentar anda untuk opini ini.<br /> &nbsp;</p>
	<p> <strong>SURAT PEMBACA: Konsep Pertanian Organik vs. </strong><strong>Pabrikasi Pupuk Organik</strong><br /> oleh anonymous </p>
	<p>Ketika membaca artikel kompos di blog Manglayang, saya teringat diskusi ngalor ngidul beberapa waktu lalu bersama seseorang yang merupakan teman sekaligus guru. Tidak terasa jari-jari menari diatas kibord komputer usang, menuliskan apa yang ada di kepala.</p>
	<p> Tulisan ini sama sekali bukan bermaksud melakukan <em>black campaign </em>pada penjual atau pengusaha pupuk organik tapi hanya sekedar melontarkan opini dan pendapat pribadi.</p>
	<p> Mari kita mulai saja.<br /> <a id="more-71"></a><br /> 1. definisi pupuk organik</p>
	<p> &nbsp;&nbsp;&nbsp; beberapa situs menampilkan definisi mengenai (pupuk) organik, saya simpulkan secara umum saja: </p>
	<p> &nbsp;&nbsp;&nbsp; pupuk organik adalah pupuk/fertilizer yang dibuat dari bahan dasar berupa materi organik. Seperti kotoran ternak dan bagian dari tumbuhan.</p>
	<p> 2. definisi pertanian organik </p>
	<p> &nbsp;&nbsp;&nbsp; masih <em>debatable</em>, tapi definisi yang (saat ini) menurut saya pas dan dianut (kayak agama aja) adalah:</p>
	<blockquote><p>&quot;<em>Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai pendekatan terhadap sistem budaya tani yang bertujuan untuk menghasilkan sistem produksi tani yang terintegrasi, humanis, dan berkelanjutan baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.</em><br /> </blockquote>
 <br /> ditambahkan..</p>
	<blockquote><p><em>Titik berat pertanian organik terletak pada penggunaan sumber daya yang bisa diperbaharui (renewable) yang berasal dari dalam (lokal) atau sekitar lahan pertanian dan penerapan manajemen ekologi serta pengetahuan tentang proses dan interaksi biologi, yang bertujuan untuk menghasilkan tingkat produksi pertanian yang pantas, ternak dan nutrisi untuk umat manusia, perlindungan terhadap hama dan penyakit dan tetap memperhatikan timbal balik terhadap manusia dan sumber daya lain yang digunakan.<br /> Sementara itu, semua input dari luar (maksudnya dari luar lahan pertanian) baik kimia maupun organik, dikurangi sebanyak mungkin.</em>&quot; </p></blockquote>
	<p> (dari <a target="_self" href="http://www.wirs.aber.ac.uk/research/organics/define.html">http://www.wirs.aber.ac.uk/research/organics/define.html</a>, maaf kalau terjemahannya kurang tepat, tapi kira2 begitulah hehe)&quot;</p>
	<p> Intinya adalah penggunaan asupan dari luar lahan pertanian sekecil mungkin, yang berarti juga akan meminimalisasi penggunaan BBM untuk transportasi. Memang tidak selalu mudah, dan karenanya tidak ada paksaan untuk sebuah usaha tani menjadi pertanian yang organik <img src='http://manglayang.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
	<p> &lt;!&#8211;more &#8211;&gt;</p>
	<p> Konsep seperti ini sebetulnya sudah jamak pada beberapa wilayah di Indonesia. Keluarga petani yang hanya memiliki lahan tidak lebih dari satu atau dua hektar, punya beberapa ekor ternak ayam, kambing atau sapi, ada kolam ikan, juga kebun talun yang menjadi tempat hidup berbagai macam mahluk, baik tanaman keras tahunan, tanaman obat maupun mikroorganisme yang menyuburkan tanah. Lahan pertaniannya kalau berair dibuat sawah, kalau kering dibuat ladang, ditanami berbagai tanaman baik palawija maupun sayuran. Mulai jagung sampai singkong, dari kangkung sampai ketimun. Hasil pertaniannya sebagian dimakan sendiri, sisanya yang bisa disimpan ditaruh dalam lumbung untuk persediaan atau dijual ke pasar lokal atau di barter dengan komoditi lain dengan tetangga.
<p>&nbsp;</p>
	<p>Menurut saya inilah pertanian organik yang benar-benar organik. <em>Small scale</em>, <em>sustainable farming</em> kalo kata orang londo. Keluarga petani tradisional seperti ini sadar tidak sadar terbukti memiliki ketahanan pangan dan daya hidup yang sangat baik. Ketergantungan mereka terhadap asupan dari luar sangatlah kecil. </p>
	<p>Pertanian seperti ini rasanya sudah semakin jarang ditemui seiring dengan semakin bertambahnya pengetahuan tentang pertanian modern dan maraknya penggunaan pupuk serta pestisida kimia, benih transgenik yang mempromosikan hasil yang berlipat ganda, atau benih hibrida yang menuntut perlakuan intensif, berbagai macam hama dan penyakit pertanian yang datang silih berganti, serta&nbsp; pengusahaan pertanian dengan skala yang besar dan seterusnya.. </p>
	<p>Petani akhirnya ketagihan dengan sarana produksi pertanian yang instan karena mudah dan cepat mendapatkannya. Ngapain capek-capek mengolah kotoran untuk mendapatkan pupuk, kalau saya bisa membelinya (atau menghutangnya) ke toko <img src='http://manglayang.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .  </p>
	<p>Saya cukup setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan kompos sebagai substitusi atau pengganti dari pupuk kimia akan <a target="_self" href="http://www.antara.co.id/arc/2008/4/4/atasi-krisis-pupuk-dengan-kembali-ke-kompos/">mengurangi ketergantungan</a> para petani pada pupuk kimia, namun kita harus hati-hati juga, pupuk organik/kompos yang bagaimana?.</p>
	<p> Apakah kompos (atau pupuk organik) itu yang diproduksi dalam skala pabrikan, yang produksinya membutuhkan bahan dalam jumlah besar. Bahan kotoran sapi dan ayamnya harus menempuh jarak puluhan atau ratusan kilometer sebelum di proses menjadi kompos, jerami sebagai bahan coklatan diangkut dari lahan sawah yang jauh. Dan kemudian setelah produknya jadi, dipasarkan kembali sampai jauh ke pelosok-pelosok, bahkan ke tempat dimana bahan-bahan pupuk tersebut didapat.  </p>
	<p>Olala, saya tidak bisa membayangkan berapa liter BBM yang dibakar untuk menghasilkan sekantong pupuk organik yang seperti ini..</p>
	<p> Dan sudah bisa ditebak siapa yang harus membayar semua ongkos transportasi dan BBM itu, tentu penggunanya para petani dan pekebun.</p>
	<p> Dan bagaimana jadinya bila kelak petani kembali mengalami &#8216;ketagihan&#8217; akan pupuk organik tanpa memiliki kemampuan untuk memproduksinya?. Jika saluran distribusi pupuk organik itu terganggu, atau pabriknya tutup dsb? bukankah ini bisa berarti para petani lepas dari mulut macan (pupuk kimia) masuk mulut buaya (pupuk organik skala massal)? Sejarah terulang.</p>
	<p> Dapat disimpulkan bahwa pupuk organik yang diproses secara massal dan dengan sistem pabrikasi sebetulnya sulit sejalan dengan prinsip-prinsip pertanian organik itu sendiri. Dengan kata lain, pupuk organik yang tidak organik <img src='http://manglayang.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
	<p> Lalu apakah pupuk organik sama sekali tidak boleh di pabrikasi? mungkin ada jalan lain.. <br /> Yang bisa terpikir oleh saya adalah bila saya seorang produsen pupuk organik yang benar-benar mengusung aliran <em>punk rock</em>, eh .. aliran organik. Bila mampu, saya akan berusaha menyederhanakan proses pembuatan pupuk dan mendekatkan pabrik saya dengan sentra pertanian. Pabriknya tidak usah besar karena toh hanya untuk pasar lokal saja. Saya akan membuat pupuk organik saya dengan bahan-bahan yang didapatkan dari sekitar wilayah tersebut, saya akan pelihara sendiri sapi dan domba bila di daerah tersebut tidak ada ternak yang bisa diambil kotorannya atau saya akan mensubtitusi bahan-bahan yang tidak tersedia di lokal.</p>
	<p> Atau bila saya tidak mampu membuat pabrik di wilayah itu, saya akan ajak para petani kerja sama dan ajarkan mereka membuat dan memproduksi pupuk sendiri dengan standarisasi dan merek dagang produk pupuk saya yang sudah terkenal itu. Saya akan biarkan petani membuat pupuk untuk kalangan mereka sendiri, bahkan menjualnya ke petani sekitar bila mau. Saya tidak akan ambil sepeser pun dari hasil penjualan itu.<br /> Lantas dari mana saya dapat uang? Oho, tunggu dulu, saya kan punya kenalan pengusaha-pengusaha UKM dan koperasi di sekitar sini yang memproduksi berbagai barang dan jasa, mulai cukur rambut sampai warung makan, dari gula merah sampai arang batok, mereka mau bayar untuk pencantuman logo dan produk dalam kemasan pupuk yang diproduksi oleh para petani mitra saya itu sebagai iklan usaha mereka. Dari situlah pundi-pundi saya terisi. </p>
	<p>Tentu yang terbaik adalah para petani harus tetap menguasai dan melestarikan cara serta metoda pembuatan pupuk organik sendiri. </p>
	<p>Bandung, medio Maret 2008  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2008/04/15/surat-pembaca-pertanian-organik-vs-pabrikasi-pupuk-organik/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Teknologi  Kompos oleh Dardjat Kardin</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2007/10/21/teknologi-kompos/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2007/10/21/teknologi-kompos/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 14:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Artikel</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2007/10/21/teknologi-kompos/</guid>
		<description><![CDATA[	Pengantar dari Manglayang Farm Online
Seri artikel Teknologi Kompos yang cukup komprehensif ini dibuat oleh Kang Dardjat Kardin pada tahun 2005 dan merupakan seri dokumen Pelatihan Pertanian Berkelanjutan yang mengungkap teknologi dan cara pembuatan kompos dengan skala farm/kebun yang mengarah pada unit produksi kompos sebagai bisnis.
	Meskipun demikian pada dasarnya prinsip-prinsip komposting adalah sama, sehingga prinsip dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Pengantar dari Manglayang Farm Online</strong>
<p>Seri artikel Teknologi Kompos yang cukup komprehensif ini dibuat oleh Kang Dardjat Kardin pada tahun 2005 dan merupakan seri dokumen Pelatihan Pertanian Berkelanjutan yang mengungkap teknologi dan cara pembuatan kompos dengan skala farm/kebun yang mengarah pada unit produksi kompos sebagai bisnis.</p>
	<p>Meskipun demikian pada dasarnya prinsip-prinsip komposting adalah sama, sehingga prinsip dan teknologi yang dituliskan disini dapat juga diaplikasikan pada pembuatan kompos skala rumah tangga maupun skala yang lebih besar/pabrikan. Perbedaan signifikan hanya pada unsur kerumitan proses dan kuantitas serta ketersediaan bahan baku. Selamat membaca dan membuat kompos <img src='http://manglayang.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
	<p><strong>Disclaimer</strong></p>
	<p>Editing, penyesuaian dokumen untuk format online, publikasi, gambar dan foto oleh <a title="Manglayang Farm Online" target="_self" href="http://manglayang.blogsome.com">Manglayang Farm Online</a>. Naskah dipublikasikan atas seijin pemilik tulisan. Reduplikasi, redistribusi dan republikasi diperbolehkan selama mencantumkan pemilik artikel dan sumbernya.</p>
<strong>Teknologi Kompos oleh Dardjat Kardin</strong>
</p>
	<p>update terakhir: 23 Oktober 2007 11:04 WIB</p>
	<ol>
<li><a title="Humus Sebagai Teladan Sumber Bahan Organik" target="_self" href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/1-humus-sebagai-teladan-sumber-bahan-organik/">Humus Sebagai Teladan Sumber Bahan Organik</a></li>
	<li><a href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/2-teknologi-kompos/" target="_self" title="Teknologi Kompos">Teknologi Kompos</a><a href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/teknologi-kompos/" target="_self" title="Teknologi Kompos"><br /></a></li>
	<li><a href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/3-metoda-pembuatan-kompos/" target="_self" title="Metoda Pembuatan Kompos">Metoda Pembuatan Kompos</a></li>
	<li><a href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/4-kunci-pembuatan-kompos/" target="_self" title="Kunci Pembuatan Kompos">Kunci Proses Pembuatan Kompos</a></li>
	<li><a href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/5-standarisasi-pembuatan-kompos/" target="_self" title="Standarisasi Pembuatan Kompos">Standarisasi Pembuatan Kompos</a></li>
	<li><a href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/6-ciri-ciri-kompos-jadi/" target="_self" title="Ciri-Ciri Kompos Jadi">Ciri-Ciri Kompos Jadi</a></li>
	<li><a href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/7-penyimpanan-kompos/" target="_self" title="Penyimpanan Kompos">Penyimpanan Kompos</a></li>
	<li><a title="Keunggulan dan Kekurangan Kompos" target="_self" href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/8-keunggulan-dan-kekurangan-kompos/">Keunggulan dan Kekurangan Kompos</a></li>
	<li><a title="Pembuatan Kompos Yang Sederhana dan Praktis" target="_self" href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/9-pembuatan-kompos-yang-sederhana-dan-praktis/">Pembuatan Kompos Yang Sederhana dan Praktis</a><br />Penyiapan Bahan<br />Penyiapan Alat<br />Penyusunan Bahan Baku<br />Mencampur Kompos<br />Mengukur Temperatur<br />Membalik Kompos<br />Penyaringan</li>
	<li><a title="Aktivator Kompos" target="_self" href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/10-aktivator-kompos/">Aktivator Kompos</a></li>
	<li><a title="Jadwal Kegiatan Proses Pembuatan Kompos" target="_self" href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/11-jadwal-kegiatan-proses-pembuatan-kompos/">Contoh Jadwal Kegiatan Proses Pembuatan Kompos</a></li>
	<li><a title="Cara Pemakaian dan Menghitung Kebutuhan Kompos" target="_self" href="http://manglayang.blogsome.com/dardjat-kardin-teknologi-kompos/12-cara-pemakaian-dan-menghitung-kebutuhan-kompos/">Cara Pemakaian dan Menghitung Kebutuhan Kompos</a></li>
</ol>
	<p>&nbsp;<em>Dardjat Kardin adalah praktisi pertanian berkelanjutan. Tinggal di Bandung.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2007/10/21/teknologi-kompos/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Hidrogen Bioreaktor, listrik dari mikroba</title>
		<link>http://manglayang.blogsome.com/2007/09/18/hidrogen-bioreaktor-listrik-dari-mikroba/</link>
		<comments>http://manglayang.blogsome.com/2007/09/18/hidrogen-bioreaktor-listrik-dari-mikroba/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2007 03:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manglayang</dc:creator>
		
	<category>Berita</category>
		<guid>http://manglayang.blogsome.com/2007/09/18/hidrogen-bioreaktor-listrik-dari-mikroba/</guid>
		<description><![CDATA[	Satu perusahaan di Ohio, Amerika yang mengkhususkan diri pada bidang nano dan bioteknologi bernama NanoLogix, dalam siaran pers yang dirilis hari ini menyatakan bahwa mereka telah berhasil &quot;membujuk&quot; kelompok mikroorganisme tertentu untuk menghasilkan hidrogen. Hidrogen yang dihasilkan tersebut pada gilirannya digunakan untuk menghasilkan listrik. Mereka menyebut sistem ini Bioreaktor Hidrogen.
	  Hidrogen yang dihasilkan oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Satu perusahaan di Ohio, Amerika yang mengkhususkan diri pada bidang nano dan bioteknologi bernama <a href="http://www.nanologixinc.com/index-1.html" target="_self" title="NanoLogix">NanoLogix</a>, dalam siaran pers yang dirilis hari ini menyatakan bahwa mereka telah berhasil &quot;membujuk&quot; kelompok mikroorganisme tertentu untuk menghasilkan hidrogen. Hidrogen yang dihasilkan tersebut pada gilirannya digunakan untuk menghasilkan listrik. Mereka menyebut sistem ini Bioreaktor Hidrogen.</p>
	<p>  Hidrogen yang dihasilkan oleh mikroba tersebut menggerakan sebuah generator berkapasitas 5.5 kW yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat menerima hidrogen sebagai asupan bahan bakarnya. Listrik tersebut kemudian digunakan untuk menyalakan rangkaian lampu 100 watt.</p>
	<p>Harry Diz, Kepala Departemen NanoLogix menyatakan &quot;Sepengetahuan kami, ini adalah pertama kali dalam sejarah, bahwa listrik dihasilkan oleh gas hidrogen yang didapatkan dari bakteria yang mencerna air limbah&quot;. </p>
	<p>Air limbah yang mengandung gula itu berasal dari sebuah pabrik agar-agar. Walaupun perusahaan tersebut tidak merinci bagaimana proses bekerja sistem reaktor hidrogen biologi tersebut, namun tentu saja prestasi ini merupakan sebuah catatan tersendiri dalam dunia energi dan mikoorganisme. </p>
	<p>Semakin membuka mata kita, bahwa dunia mikroorganisme masih sangat luas untuk di eksplorasi.</p>
Lihat video dari YouTube mengenai <a href="http://www.youtube.com/watch?v=cS_jmMwy9D8" target="_self" title="Hydrogen Bioreaktor">hidrogen bioreaktor</a>.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manglayang.blogsome.com/2007/09/18/hidrogen-bioreaktor-listrik-dari-mikroba/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
