BeritaDecember 16, 2008 7:36 pm

Apakah Masigit Kareumbi?

Masigit - Kareumbi adalah nama wilayah yang meliputi beberapa gunung disebelah utara Cicalengka, Jawa Barat yang termasuk ke dalam wilayah administrasi tiga kabupaten yaitu kabupaten Bandung, kabupaten Garut dan kabupaten Sumedang. Melalui surat keputsan  Menteri Pertanian, No 297/Kpts/Um/5/1976 tanggal 15 Mei 1976 kawasan seluas 12.420,70 Ha ini telah ditunjuk sebagai Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK).
Sejak akhir 2008, berdasarkan surat keputusan bersama antara Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam, BKSDA Jabar dan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, Wanadri, TBMK dikelola secara kemitraan. Untuk keperluan pengaturan dan administrasi, maka dibentuklah tim yang disebut tim Manajemen Pengelola Kawasan Konservasi Masigit Kareumbi.

Kenapa Masigit Kareumbi?

Kawasan Masigit Kareumbi merupakan hulu dan mata air dari beberapa anak sungai yang bermuara ke sungai Citarum. Sungai Citarum sendiri adalah sungai besar yang berhulu di gunung Wayang, kabupaten Bandung. Aliran Citarum membelah kota Bandung dan bermuara di Muaragembong, Bekasi. Sungai dengan panjang 269 km ini menjadi sungai yang sangat penting, tidak saja bagi Jawa Barat namun juga nasional. Citarum memiliki peran yang kritis. Tiga PLTA besar, Jatiluhur, Cirata dan Saguling mengandalkan sungai ini untuk kelangsungan pembangkit listriknya. Demikian juga sekira 11 juta jiwa yang berdiam di sepanjang DAS Citarum.
Tidak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa terdegradasinya kawasan Masigit Kareumbi memiliki peran terhadap terjadinya berbagai bencana di kawasan ini sekitar sungai Citarum.

Apa itu Wali Pohon?

Kegiatan Wali Pohon Masigit Kareumbi membuka ruang kepada publik dan khalayak umum untuk dapat berperan aktif dalam kegiatan konservasi lingkungan di wilayah ini sebagai orang tua asuh dari pohon yang ditanam. Selayaknya orang tua asuh maka berkewajiban untuk membiayai setiap pohon yang menjadi anaknya, sampai pohon dapat hidup mandiri.

Untuk informasi lebih lengkap, silahkan unduh beberapa dokumen Wali Pohon Masigit - Kareumbi.

 

BeritaSeptember 18, 2007 10:30 am

Satu perusahaan di Ohio, Amerika yang mengkhususkan diri pada bidang nano dan bioteknologi bernama NanoLogix, dalam siaran pers yang dirilis hari ini menyatakan bahwa mereka telah berhasil "membujuk" kelompok mikroorganisme tertentu untuk menghasilkan hidrogen. Hidrogen yang dihasilkan tersebut pada gilirannya digunakan untuk menghasilkan listrik. Mereka menyebut sistem ini Bioreaktor Hidrogen.

Hidrogen yang dihasilkan oleh mikroba tersebut menggerakan sebuah generator berkapasitas 5.5 kW yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat menerima hidrogen sebagai asupan bahan bakarnya. Listrik tersebut kemudian digunakan untuk menyalakan rangkaian lampu 100 watt.

Harry Diz, Kepala Departemen NanoLogix menyatakan "Sepengetahuan kami, ini adalah pertama kali dalam sejarah, bahwa listrik dihasilkan oleh gas hidrogen yang didapatkan dari bakteria yang mencerna air limbah".

Air limbah yang mengandung gula itu berasal dari sebuah pabrik agar-agar. Walaupun perusahaan tersebut tidak merinci bagaimana proses bekerja sistem reaktor hidrogen biologi tersebut, namun tentu saja prestasi ini merupakan sebuah catatan tersendiri dalam dunia energi dan mikoorganisme.

Semakin membuka mata kita, bahwa dunia mikroorganisme masih sangat luas untuk di eksplorasi.

Lihat video dari YouTube mengenai hidrogen bioreaktor.

BeritaJune 6, 2006 1:30 pm

Sawah Menghijau Menghadapi Musim Panen di daerah Jetis Kab. Bantul.
Sawah Menghijau Menghadapi Musim Panen di daerah Jetis Kab. Bantul.
Latar Belakang: Rumah Yang Roboh Dihantam Gempa 5.9 SR

Mohon maaf bagi para pengunjung dan rekan rekan yang sharing di kolom komentar Manglayang Farm Online bila pertanyaan atau komentarnya belum di respon. Dalam beberapa hari kemarin kami masih berada di Yogyakarta untuk melakukan sedikit kegiatan yang berkaitan dengan bencana gempa yang melanda daerah tersebut.

Sekedar sharing, kami sempat mengobrol dengan beberapa orang peternak lokal di daerah Kabupaten Bantul yang menceritakan kisah kisah mengenai kondisi hewan ternak mereka paska bencana. Ternyata selain korban manusia, korban ternak pun cukup banyak. Ada peternak yang dengan mata berkaca kaca bercerita bahwa dia baru saja menguburkan satu ekor sapi (yang berharga 5 juta-an) yang terkena jatuhan puing kandang, dan satu ekor lagi di potong paksa setelah kakinya patah. Untungnya, sapi tersebut masih dapat berguna bagi manusia karena dagingnya bisa dibagikan dan dimakan oleh orang orang sekampung.

Mengingat sebagian besar warga Kabupaten Bantul adalah petani dan peternak, perlu kiranya dilakukan dorongan agar saudara saudara kita tidak terus terlena dengan kondisi bencana dan arus bantuan yang mengalir. Ternak tetap harus makan, sawah tetap harus disiangi, roda kehidupan harus kembali berputar. Mari kita bangun kembali Yogyakarta.

Manglayang Farm Online turut belasungkawa terhadap semua korban dan kehilangan harta benda akibat bencana gempa tersebut. Mudah mudahan kita semua bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini. Amin.

BeritaNovember 3, 2005 11:59 pm

Indonesian Center for Agricultural Library and Technology Dissemination (ICALTD) dikutip dari situsnya adalah perpustakaan biologi dan pertanian tertua di Indonesia. Perpustakaan ini pertama kali berdiri pada Mei 1842, diawali oleh pembelian 25 judul buku yang dimiliki oleh Jacques Pierot, yang dianjurkan oleh J.K Hasskarl, asisten di Hortulanus Land Plantentuin dan M. Diard, anggota dari Natuurkundige Commissie.

Pada awal kemunculannya, perpustakaan ini menjadi bagian dari Bogor Botanical Garden yang memberikan dukungan terhadap akses para botanis Belanda terhadap literatur keilmuan. Pada 1850, secara formal institusi ini bernama Bibliotheek ’s Land Plantentuin te Buitenzorg. Bagaimanapun, dalam perjalan hidupnya, beberapa kali perpustakaan ini berganti nama dan fungsi.

Baru sejak Maret 2000, surat keputusan Menteri Pertanian No. 160/Kpts/OT.210/3/2000 secara resmi menyatakan nama resmi dari perpustakaan ini yaitu “Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian” atau yang dalam bahasa Inggris adalah Indonesia Center for Agricultural Library and Technology Dissemination.

Visi dan Misi dari ICALTD tahun 2005-2009 ini sungguh mulia, “Menjadi pusat dokumentasi dan informasi pertanian nasional terdepan berbasis teknologi“, sedangkan misinya yaitu “Mengelola, mendokumentasikan, dan memperluas penyebaran informasi IPTEK pertanian melalui pemanfaatan TI, peningkatan akses informasi, publikasi, promosi, pengembangan pedoman teknis, pengembangan profesionalisme pengelola informasi, serta peningkatan kerjasama pertukaran informasi dan kompetensi dengan lembaga sejenis, LSM, dan swasta.

Melalui penelusuran singkat terlihat bahwa situs ini memiliki organisasi isi yang baik dan cukup padat. Selain memuat berbagai publikasi online dan jurnal teknologi pertanian, di situs tersebut juga kita dapat membaca tulisan yang dimasukkan pada submenu Agritech mengenai berbagai teknologi budi daya mulai dari peternakan, perikanan, tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanah dan agroklimat, sosial ekonomi, teknologi paska panen, pertanian umum sampai mesin mesin pertanian.
Cukup banyak, tapi tentu masih kurang, mengingat lembaga ini berdiri sejak 1842 :)

Sayangnya beberapa submenu dan link artikel masih dead-link. Mudah mudahan di masa yang akan datang, tulisan online-nya bisa terus diperbanyak.

Link:

BeritaNovember 1, 2005 2:30 pm

Majalah online SALAM edisi ke 12 yang dipublikasikan oleh LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) bersama dengan VECO Indonesia telah terbit dan dapat dibaca secara online.
Majalah yang membahas mengenai sistem pertanian yang berkelanjutan ini dalam setiap edisinya selalu memuat dan mengulas secara ringan berbagai informasi yang sangat menarik dan layak anda baca.

Pada edisi kali ini yang berjudul “Kebijakan Pertanian” berisi berbagai artikel menarik seperti tradisi Saroan di Tana Toraja, Pengalaman PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) di Perbukitan Menoreh, Jawa Tengah, dan beberapa artikel mengenai kebijakan pertanian di Indonesia.

Ikuti link berikut untuk majalah SALAM edisi ke 12.
Atau ikuti link berikut untuk melihat edisi sebelumnya.

BeritaSeptember 6, 2005 4:50 pm

Peternakan unggas yang berkelanjutan, mungkin begitu kira kira artinya dalam bahasa kita. Ketika sedang browsing, penulis mampir disebuah situs yang cukup asik mengenai sustainable agriculture.
Ya, kata kata sustainable belakangan ini memang sedang trend, apalagi setelah semakin di populerkan oleh bapak Presiden kita.

Bukan kebetulan bahwa ada kabar yang beredar (entah burung entah bukan) bahwa Jawa Barat ingin menerapkan sebuah sistem peternakan berkonsep keluarga (family farming). Dan rasanya salah satu peternakan yang tidak membutuhkan lahan terlalu luas sehingga cocok untuk keluarga Indonesia dan menghasilkan produk yang dapat langsung dinikmati adalah beternak unggas, khususnya ayam.

Satu konsep yang termasuk baru di Amerika adalah konsep yang dikembangkan oleh Joel Salatin pada sekitar 1990, seorang petani peternak dari Lembah Shenandoah, Virginia. Konsep tersebut adalah pastured poultry. Yang apabila di-Indonesiakan kurang lebih berarti beternak ayam sistem gembala.
Sesungguhnya di Indonesia sendiri ide konsep ini sama sekali tidak baru (untuk ini kita boleh berbangga), kita dapat melihat bahwa di daerah daerah pedesaan, ayam dipelihara dengan cara dilepas begitu saja sehingga dapat mencari makan sendiri.
Konsep yang dikembangkan Salatin juga kurang lebih sama, namun ada beberapa model konsep yang cukup menarik untuk kita perhatikan pada peternakan ayam alternatif ini.

Konsep PASTURED POULTRY PENS - Ternak dikurung dalam sebuah kandang portable, biasanya berukuran 3m x 3,5m x 0,6m, yang tidak berlantai. Kandang ini biasanya dipindah tempat setiap hari, sehingga ternak mendapatkan makanan segar, baik rumput dan hijauan lain, cacing maupun serangga dari padang gembala. Sembari menyebarkan pupuk kandang yang menyuburkan tanah.

Konsep NET RANGE atau DAY RANGE - Mengurung ternak pada sebuah rumah kandang, biasanya berstruktur gelung / hoop, yang dapat dipindah tempatkan, dimana rumah kandang tersebut dikelilingi oleh jaring yang membagi area tersebut menjadi beberapa paddock / lapak. Peternak memindahkan kawanan ternak dari satu lapak ke lapak yang lain. Mirip sekali dengan konsep Rotational Grazing pada ternak sapi.

Konsep alternatif lainnya adalah YARDING, FREE RANGE, dan CHICKEN TRACTOR. Tentu masih banyak alternatif lain yang dapat dikembangkan tentunya sesuai dengan imajinasi si peternak.

Ingin tau lebih lanjut ?. Silahkan mengunjungi situs mengenai konsep konsep peternakan unggas yang berkelanjutan tersebut.

Berita 6:47 am

Terima kasih telah mengunjungi situs ini.

Situs ini dibuat untuk mendokumentasikan kegiatan kegiatan yang kami lakukan dalam proses pembelajaran seni, ilmu, dan usaha pengolahan lahan, bercocok tanam serta pemeliharaan hewan ternak.

Dalam proses belajar (yang tidak ada habis habisnya) ini, kami juga senang mengumpulkan informasi informasi menarik yang berkaitan dengan budaya agri, baik dari negeri sendiri maupun negara lain yang kami dapatkan di jagat maya. Informasi informasi tersebut secara berkala akan kami coba tampilkan disini.

Demikian, semoga informasi yang ada di situs ini dapat berguna bagi kita semua.

Sept 2005
Manglayang Farm

Unique visitor stumbled upon this site since 27 Dec 2005: people(s)