Pagar High Tensile Smooth Wire #1
![]() |
| DIY: High Tensile Smooth Wire Fence |
Beberapa waktu yang lalu kami berkesempatan bergiat di wilayah Kawasan Konservasi Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK). Kegiatan kami disana untuk membantu pengelola kawasan dalam pembangunan pagar untuk penangkaran rusa.
Alkisah, pengelola kawasan TBMK merencanakan untuk memperluas area penangkaran rusa yang sebelumnya sudah ada disana. Dan menawarkan kepada kami untuk membantu melakukan perancangan sistem dan model kandang. Dengan senang hati (dan agak terburu-buru) tawaran ini serta merta kami iyakan dengan satu syarat. Bukan apa-apa, kebetulan kami sedang mencoba membuat sistem kandang untuk percobaan penggembalaan pada ayam dan tentu urat eksperimen kami cukup tertantang untuk mencoba pada skala yang lebih serius
.
Syaratnya adalah pagar untuk penangkaran rusa itu dibuat dengan sistem yang dikenal dengan nama High Tensile Smooth Wire (HTSW).
Tulisan kali ini mungkin bertele-tele, tapi kami ingin sedikit bercerita mengenai proses yang kami lalui dalam rangka membuat pagar model HTSW.
Sekilas HTSW
Pagar model ini sebetulnya sudah sejak lama dikenal di luar negeri. Kalau tidak salah yang pertama mempopulerkannya adalah peternak dari New Zealand dan Australia. Dari sana kemudian berkembang sampai ke Amerika, Canada, Eropa bahkan Afrika. Karena berbagai keunggulannya, pagar model ini sangat berkembang di belahan dunia lain, kalau kita mencari di internet, demikian banyak supplier dan kontraktor untuk pagar high tensile.
Namun kami belum pernah melihat pagar model begini diterapkan di Indonesia, atau mungkin saja kami yang kurang bergaul (he..he). Tapi setidaknya di sekitar Bandung kami belum pernah menemukan sistem pagar seperti ini diterapkan.
Berbeda dengan pagar kawat konvensional yang lazim dikenal seperti pagar kawat anyam yang di las (spot welded mesh wire) ataupun kawat anyam model harmonika (chain link wire mesh), pagar model HTSW ini dibuat dari deretan lembar kawat yang diregang (tensile) dengan cukup keras/ tegang.
![]() |
![]() |
| Kawat harmonika/ Chain link wire mesh (picture courtesy of bombayharbor.com) |
Kawat ‘welded wire mesh’ (picture courtesy of top-fence.com) |
Mengapa HTSW?
Ada beberapa filosofi disain yang melatarbelakangi kenapa kami memilih model ini. Tapi setelah ditimbang-timbang, ternyata rasa penasaranlah yang lebih menonjol (ha..ha).
Pertanyaan yang sering muncul ketika kami berdiskusi adalah mengapa di Indonesia orang jarang menggunakan pagar model ini untuk membuat padang penggembalaan? sementara di luar negeri sudah lazim digunakan. Apakah lokalita? apakah biaya? ataukah ada alasan lain? (padahal jawabannya obvious, padang penggembalaannya saja jarang). Setelah membaca artikel ini mungkin pembaca bisa menyimpulkannya sendiri. Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak ada jalan lain selain melangkah dan mencoba membuatnya bukan?
Proses Pematangan Disain
Keinginan untuk membuat pagar model ini sebetulnya sudah lama kami bahas dalam percakapan-percakapan internal dengan tim Manglayang Farm. Awalnya ketika beberapa tahun lalu kami sempat iseng mencoba membuat pagar listrik (electric fence). Pada saat itu kendala utama selain charger sebagai pembangkit daya, adalah juga kawat yang digunakan untuk mengalirkan listrik. Dan seperti biasa, eksperimen electric fence lantas terhenti karena berbagai kendala (sebenarnya yang utama adalah faktor malas, awas jangan ditiru! hehe)
Langkah pertama dalam rangka memantapkan rencana menggunakan HTSW ini adalah, seperti biasa, melakukan studi literatur dari internet dan studi lapangan untuk menghitung perkiraan biaya. Kami membandingkan beberapa model pagar, baik sistem konvensional yang menggunakan material kayu atau bambu maupun sistem moderen yang menggunakan besi ataupun campuran keduanya.
Keunggulan yang cukup signifikan dari pagar kawat HTSW menurut pemahaman kami adalah bahwa HTSW merupakan basis dari sistem pagar listrik untuk ternak. Sistem HTSW yang baik dapat dimodifikasi menjadi pagar listrik dengan sedikit modifikasi struktur pagar.
Yang kedua adalah umur pakai. Kawat yang digunakan pada umumnya adalah kawat baja galvanis. Pada spesifikasi kawat yang digunakan di luar negeri, diklaim mampu tahan lebih dari 20 tahun. Pagar ini juga cukup mampu menahan jatuhan ranting, maupun batang pohon yang tidak terlalu besar. Pada lahan yang cukup berkontur pagar ini juga dinilai mampu beradaptasi sehingga mengurangi pekerjaan sipil seperti cut-and-fill tanah.
Selain itu juga relatif cepat dalam soal ereksi dan hampir semuanya dapat dikerjakan di lapangan.
Dibandingkan dengan dua contoh pagar kawat diatas, chain link fence yang tersedia di lokal biasanya terbuat dari bahan seng (biasa disebut kawat tali atau kawat seng). Daya tahan cukup baik namun cukup mudah berkarat. Sehingga berpengaruh pada ketahanan dan estetika. Selain itu, pemasangan kawat harmonika membutuhkan rangka-rangka yang menyebabkan biaya per meter menjadi cukup mahal. Sedangkan welded mesh wire adalah ketahanan terhadap getaran, guncangan dan cuaca yang dapat menyebabkan las-lasan terlepas. Selain itu welded wire mesh juga membutuhkan rangka sehingga lagi-lagi biaya ereksinya menjadi cukup tinggi.
Memang pada intinya, pagar untuk penggembalaan ternak adalah investasi yang tidak murah. Bahkan bisa dibilang nomor dua setelah biaya pembelian ternak itu sendiri.
Ada beberapa keuntungan lain dari HTSW yang kami temukan saat melakukan pembangunan, nanti kita elaborasi pada tulisan selanjutnya saja ya.
Sedangkan kerugiannya juga tentu ada, salah satunya yang terpikir adalah pagar kawat model ini cenderung tidak terlihat oleh ternak. Ternak yang belum hapal akan area yang dipagari memiliki kemungkinan untuk menabrak atau bahkan tersangkut pada kawat apabila ternak panik, hal ini menjadi cukup kritis untuk ternak yang mudah stres dan kurang friendly seperti rusa. Tapi lagi-lagi alasan penasaran mengesampingkan alasan yang lebih rasional (he..he), belum lagi studi literatur ternyata menunjukkan bahwa HTSW juga telah banyak digunakan pada game fencing untuk rusa.
Pagar yang kami buat ini hanya sepanjang 350an meter, untuk area penggembalaan seluas 7500m2 dengan tinggi pagar 220cm yang terdiri dari 14 lembar kawat.
Kendala
Setelah cukup banyak melakukan studi literatur dan percobaan-percobaan kecil, kami menemukan bahwa pembangunan pagar model HTSW membutuhkan peralatan khusus, kami menyebutnya special tools. Dan setelah kami perkirakan, peralatan-peralatan ini tidak bisa kami beli di pasaran lokal. Namun berbekal gambar dari internet, dan obrolan dengan salah satu suhu kami (halo pak Athol, terima kasih dan salam hormat) serta mesin las, gerinda dan bor di bengkel kerja, kami mencoba membuat sendiri alat-alat tersebut. Proses pembuatan prototip dan percobaan fungsi dari alat tersebut membutuhkan waktu lebih 2 minggu lamanya. Hah, biar jelek, yang penting puas dan it’s work!
Selanjutnya kami juga menemui kesulitan dalam memperoleh jenis kawat yang tepat. Kawat yang sesuai spesifikasi, lagi-lagi tidak tersedia di pasaran lokal. Ugh.
Kawat yang ideal sebetulnya harus cukup mampu menahan kekuatan tensile sampai minimal 170.000 psi, beberapa kawat yang biasa digunakan di luar negeri bahkan bisa mencapai 210.000 psi. Berukuran 12.5 gauge (sekitar 2.1mm), dan dilapisi galvanis tipe III. Namun harus cukup mampu tekuk, agar kami bisa membuat simpul-simpul pengikat. Sebetulnya menurut informasi dari bandar kawat, bisa saja melakukan fresh order langsung ke pabrik sesuai spesifikasi, sayang minimum kuantitinya yang tidak bersahabat bagi pemain kecil-kecilan seperti kami. Kebanyakan toko penjual kawat bahkan tidak mampu memberikan spesifikasi tensile strength untuk kawat-kawat yang dijualnya. Inilah kendala yang lazim dijumpai. Jadi mudah-mudahan dengan semakin populernya pagar model HTSW, produsen atau pabrikan mau mulai memproduksi kawat dengan spesifikasi yang dibutuhkan ya.
Proses selanjutnya adalah mencoba beberapa jenis dan diameter kawat (dengan nama pasar yang aneh-aneh) untuk tes tarik, mulai dari kawat seng, kawat bahan paku, kawat baja, kawat stainless sampai karena tidak kunjung ketemu, mencari-cari adakah pihak yang bisa melapisi kawat baja dengan galvanis. Sampai akhir pencarian, ternyata tidak ada satupun perusahaan galvanis di Bandung yang sanggup untuk melapisi kawat baja yang sudah tergulung dengan galvanis. Kacau.
Namun akhirnya kami menemukan beberapa gulung kawat baja terlapis galvanis yang menurut kami cucok di salah satu sudut toko barang bekas di sekitar kota Bandung dengan harga yang cukup bersahabat. Fiuh. Proses ini memakan waktu sekitar 2 minggu.
.. Bagian selanjutnya akan menceritakan tentang special tools yang perlu dibuat dan langkah-langkah selanjutnya.Manglayang Farm. 2009.





