Pagar, Titik Penting Peternakan Sistem Ranching
![]() |
| Pemagaran padang gembala secara tradisional dengan bambu, from forage |
Pada peternakan dengan model semi intensif, penggembalaan atau ranching, pagar atau pemagaran merupakan sebuah titik yang penting. Selain membatasi ternak dengan dunia luar, pagar juga dapat digunakan untuk melindungi sumber daya penting di dalam maupun di luar kawasan ternak seperti kebun rumput, kebun sayuran, sumber air, kawasan gudang dan kawasan-kawasan lain yang diharapkan tidak dijamah oleh ternak. Sekaligus pagar juga dibuat untuk melindungi ternak terhadap gangguan dari luar, seperti pencurian ternak ataupun serangan predator. Dengan pemagaran, seorang peternak dapat membuat sistem gang untuk memudahkan manajemen ternak.
Begitu banyak dan penting manfaat dari pagar, namun seringkali masalah ini tidak dilihat secara serius. Padahal investasi pagar ini boleh jadi merupakan investasi termahal setelah biaya pembelian ternak itu sendiri. Pada peternakan skala kecil, peternak memang jarang membutuhkan pagar karena ternak dipelihara secara intensif di dalam kandang. Namun berdasarkan kondisi di lapangan yang dirasakan oleh kami, pembangunan padang rumput dan penerapan metoda penggembalaan dirasakan sangat efisien dalam hal biaya pakan terutama untuk ternak yang sedang menunggu masa produksi seperti pedet remaja. Dengan manajemen padang penggembalaan (grazing area) yang baik, biaya pakan lebih dapat ditekan apabila dibandingkan dengan penanaman rumput pakan ternak secara monokultur dan pemeliharaan di dalam kandang (cut and carry system) seperti banyak diterapkan peternak skala rakyat di Jawa Barat.
Bila diperhatikan di negara lain yang maju dengan peternakan sistem ranching seperti Australia dan Selandia Baru, rasa-rasanya memang salah satu keterbatasan dalam penerapan ranching ini adalah kendala soal lahan.
Jawa Barat dikaruniai Tuhan alam yang cantik dan tanah yang subur sebagai hasil dari kegiatan vulkanik gunung-gunung berapi. Sehingga sebagian besar lahan yang subur ini menjadi terlalu berharga apabila digunakan hanya untuk penggembalaan ternak. Disamping itu kepemilikan lahan sebagian besar peternak skala rakyat juga menjadi masalah tersendiri. Peternak kita jarang yang memiliki lahan luas, sehingga lahan yang dimiliki tentu akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk berbagai keperluan.
Namun demikian bukan berarti masalah pagar menjadi hal yang harus diabaikan.
Kami mencoba beberapa sistem manajemen penggembalaan (meskipun masih skala kecil) untuk mendukung tata peternakan yang lebih efisien terutama dalam soal pakan. Dalam perkembangannya, praktik penggembalaan ternyata juga mendukung kesehatan ternak. Dibandingkan dengan ternak yang selalu dikurung di dalam kandang, kami melihat bahwa ternak yang sesekali digembalakan (diabur; bhs sunda) ternyata lebih sehat dan terlihat happy. Kami memiliki anak sapi hasil kawin sedarah (inbreed) yang selalu mengalami kejang-kejang pada masa awal kelahiran di dalam kandang, namun setelah dilepas di padang penggembalan terlihat lebih sehat dan tidak pernah lagi kejang. Demikian juga untuk sapi yang akan melahirkan, kami sesekali membawa sapi-sapi induk ini ke luar kandang agar dapat merumput dengan bebas. Hasilnya, proses kelahiran anak sapi lebih mudah. Belakangan kami juga mencoba proses kelahiran yang dilakukan di luar kandang dan tidak dibantu oleh peternak. Ini juga terlihat berhasil baik.
Pada sapi-sapi pedet dan remaja kami juga membuatkan sebuah paddock kecil diantara pepohonan agar mereka dapat bermain dan merumput dengan bebas.
Untuk pembuatan paddocks ini tentu dibutuhkan pagar. Dan ternyata investasi di bidang pagar ini memang cukup tinggi. Dengan menggunakan bambu memang dapat didapatkan pagar yang cukup murah namun daya tahan dan kehandalannya seringkali membuat biaya pemeliharaan menjadi juga besar. Pagar bambu (tidak dilakukan treatment) hanya dapat bertahan kurang lebih 1.5 tahun saja. Setelah dihitung-hitung, biaya untuk pagar bambu dengan tinggi 1 meter saja kurang lebih Rp. 10.000 per meter lari.
Untuk itu kami sedang mencoba melakukan eksperimen pembuatan pagar dengan model high-tensile wire dan electric fencing yang kami yakini memberikan hasil yang lebih baik, sekaligus berbiaya lebih murah bila dibandingkan dengan daya tahan.
Mudah-mudahan pada artikel selanjutnya kami dapat mendokumentasikan eksperimen pagar high-tensile wire yang kami lakukan.
Semoga bermanfaat.




nice share…
sayangnya luas lahan peternakan2 di indonesia rata2 kurang memadai.
Lain halnya di New Zealand, rata2 semua peternakan sapi perah disana menggunakan sistem Paddock. Sehingga diperlukan manajemen tersendiri dalam mengatur ketersedian rumput di paddock. Saya rasa masalah pagar memang paling cocok menggunakan pagar kawat berlistrik. Karena daya tahan lebih lama, perawatan lebih mudah, tapi diperlukan kehati-hatian karena penggunaan listrik.
Comment by srf — July 19, 2009 @ 3:39 pm
Gambar padang gembalanya bagus sekali mang ..
Itu yang ditanam untuk padang gembala jenis rumput apa ya ..?
Comment by Prio Handoyo — September 15, 2009 @ 1:00 pm
#1 & #2 terima kasih.. nama rumputnya African star grass/ Cynodon nlemfuensis
Comment by manglayang — September 24, 2009 @ 12:56 am
rumput African star grass/ Cynodon nlemfuensis apakah kita bisa beli bibitnya dari manglayang farm ? dan harganya ?
Comment by Prio Handoyo — October 3, 2009 @ 11:13 am
Mas, kalo di amrik sana sebelum ada pagar kawat, mereka pake pohon maclura pomifera sebagai pagar hidup. Selain lebih ramah lingkungan, ranting keringnya bisa di jual jadi kayu bakar, yg gede bisa jadi kayu produksi.
Bisa ngga ya di terapkan di manglayang?
Comment by Vincent — November 20, 2009 @ 8:24 pm