Yogurt Bagian 3: Yuk Kita Bikin!
Seri ketiga artikel tentang yogurt ini merupakan lanjutan dari seri sebelumnya. Bila belum membacanya silahkan tengok dahulu dokumen tersebut agar kita mengerti apa dan bagaimana si susu fermentasi ini. Bagian 1 tentang sejarah yogurt dan Bagian 2 tentang mikrobiologi pada susu.
Kali ini Mamang mencoba menuliskan pengalaman membuat yogurt. Langkah-langkah yang dilakukan disini hanya merupakan panduan umum saja, kita dapat (dan seharusnya) melakukan improvisasi sendiri tergantung selera. Percobaan pembuatan yogurt ini dilakukan sekitar akhir tahun 2005 dan baru sekarang sempat di dokumentasikan dalam artikel, jadi mohon maaf bila ada tulisan yang kurang akurat dan foto-foto juga tidak lengkap menggambarkan setiap langkah.
Kritik/tanggapan silahkan dilayangkan.
Yogurt Bagian 3: Yuk bikin Yogurt!
Copyright (c) 2007 Manglayang Farm.
Permission is granted to copy, distribute and/or modify this document under the terms of the GNU Free Documentation License, Version 1.2 or any later version published by the Free Software Foundation; with no Invariant Sections, no Front-Cover Texts, and no Back-Cover Texts.
Author: Mang Layang
Pendahuluan
Membuat yogurt bukanlah pengetahuan yang rumit dan sulit, tidak seperti bikin roket atau pesawat terbang J. Yang kita butuhkan hanya sedikit kesabaran dan kemauan untuk terus mencoba. Biar gak terlalu panjang, yuk kita ikutin ceritanya.
Alat dan Bahan
Apa saja sih yang dibutuhkan untuk membuat Yogurt ?. Alat-alatnya sama sekali ngga rumit dan sebagian besar bisa kita pinjam dari dapur di rumah kita. Tapi jangan lupa setelahnya dibersihkan ya, bisa diamuk sama Ibu kalo engga.
Pertama tentu peralatan untuk menghangatkan (pasteurisasi) susu. Bisa kompor (gas, minyak tanah, ataupun tungku kayu bakar) terserah apa yang tersedia di dapur kita.
Selanjutnya yang jangan lupa adalah wadah untuk menampung susu. Sebaiknya pakai yang berbahan alumunium atau stainless steel. Disini Mamang menggunakan panci stainless.
Bila menggunakan susu segar dari peternakan, sediakan saringan untuk susu. Walaupun terlihat bersih, sebaiknya tetap disaring. Kadang-kadang suka ada bulu sapi atau kotoran lainnya yang tentu gak asik kalau ada di dalam Yogurt nantinya. Untuk menyaring, Mamang menggunakan kain yang biasa dipakai untuk sablon. Bisa didapat di toko-toko perlengkapan sablon. Harganya paling hanya sepuluh ribu perak per meter. Cari yang cukup rapat lubang saringnya. Bila tidak ada, bisa menggunakan lap bersih atau saringan santan. Tuh kan banyak alternatifnya. Asal jangan pake kaos singlet bapak aja. Eh tapi bisa juga lho kalo darurat sih.
Selanjutnya adalah kotak inkubator. Ini yang seru. Dalam artikel sebelumnya kita sudah tahu bahwa proses pembuatan yogurt memerlukan suhu yang hangat. Tidak saja hangat tapi suhu ini perlu dijaga agar konstan, tidak naik atau turun terlalu ekstrim selama proses inkubasi berlangsung. Naik turunnya suhu dengan cukup ekstrim dapat mengakibatkan proses fermentasi terganggu dan yogurt gagal terbentuk. Wah inkubator kan mahal ?. Tenang, Mamang punya beberapa alternatif. Intinya adalah pada saat inkubasi, suhu susu dijaga antara .. berapa ya, coba kita lihat lagi artikel sebelumnya. Ya betul, sekitar 45 derajat. Lebih tepatnya antara 42° C - 43° C. Karena disini temperatur yang cocok buat teman-teman kecil kita si mikroba Yogurt starter bekerja.
Wuih ketat banget toleransinya mang?
Ngga juga sih, selama masih dibawah 50° C dan diatas 30°C sebetulnya masih bisa dibilang aman, tapi kita tentu pingin yang optimal kan ?
Untuk inkubator, kalian bisa pakai kotak stryofoam yang suka dipakai nelayan untuk mengemas ikan. Mamang juga ndak tau dimana carinya, mungkin dipasar-pasar ada. Ukuran kotaknya macem-macem. Pokoknya asal wadah susu kita muat didalamnya saja. Alternatif lain untuk yang punya kompor gas ber oven bisa di inkubasi di dalam situ dengan lampu ovennya saja yang dinyalakan. Dalam skala kecil, inkubasi bisa dilakukan di dalam termos. Atau wadah susunya kita balut dengan handuk/sarung atau kain untuk menjaga kehangatannya.
Yang perlu di ingat adalah, semua ”mesin” inkubator kita sebaiknya di tes dulu, apakah dia berada dalam suhu yang optimal ?
Bagaimana caranya Mang ?
Hangatkan air biasa sampai mencapai suhu 45° C, masukkan dalam alternatif inkubator manapun yang kamu pilih dan periksa suhunya dengan termometer secara berkala setiap 1 atau 2 jam sekali selama minimal 12 jam. Pengaturan suhu bisa dilakukan dengan bermacam cara. Misalnya pada kotak inkubator yang Mamang pakai, diberi lampu pijar (bohlam) 15 watt, dan kotak ditutup. Pada kondisi demikian, mamang dapat memperoleh suhu optimal di sekitar 43° celcius selama 12 jam. Sebelumnya mamang mulai dengan lampu bohlam 100 watt, wualah, kotak inkubator mamang meleleh. Awas jangan ditiru ya, coba dengan lampu pijar dengan watt kecil dulu, 15 atau 25 watt make sense lah.
Ingat, temperatur dalam ruang inkubator ini bisa berbeda dengan temperatur airnya. Pastikan kalian mengukur dengan benar. Temperatur ini juga sangat dipengaruhi oleh temperatur lingkungan, bahan wadah susu dan angin. Jadi ya, atur-atur deh. Ohya jangan lupa, kalau sudah mencoba, sharing metoda inkubator yang kalian punya ya. Siapa tau ada ide-ide mantap lain yang it’s work!
Kemudian untuk mengukur suhu kita tentu perlu Termometer. Kalian bisa beli di toko alat-alat medis, alat-alat laboratorium atau apotik. Modelnya macam-macam, ada yang dijital, ada yang air raksa. Untuk percobaan kali ini, Mamang pakai yang dijital, bukan apa-apa, biar keliatan gaya dong, J. Hehe, ngga sejahil itu koq, tujuannya hanya biar kontrol suhu lebih akurat dan investasi perangkat ini Mamang pakai juga untuk kegiatan lainnya. Yang air raksa harganya sekitar 10 – 15 ribu rupiah, sedangkan yang dijital antara 70 ribu sampai ratusan ribu rupiah.
Jangan gunakan termometer yang untuk pengukuran suhu badan, karena biasanya hanya mampu sampai sekitar 45° celcius. Kita perlu yang mampu sampai 100° celcius atau lebih.
Bila tidak tersedia termometer atau sudah cari-cari tetap tidak ketemu, ya sudah, kita pakai termometer perasaan saja. Panduan praktisnya kira-kira begini. Campurkan satu bagian air mendidih dengan satu bagian air sumur. Kemudian rasakan panasnya dengan jari. Kalian mungkin akan merasakan panas dan tidak kuat berlama-lama mencelupkan jari. Nah ini kira-kira suhunya sekitar 55° celcius. Ketika air sudah mendingin dan kamu merasa nyaman mencelupkan jari, suhunya berada disekitar 40° - 45° C. Ini suhu yang kita inginkan. Kalau ada termometer, silahkan cross check. Makin sering kita coba, akan makin tajam feeling kita.
Ok, cukup bahasan di ngoprek feeling. Lanjut.
Bahan
Bahan yang utama tentu saja susu. Bisa susu segar dari peternakan, susu yang sudah di pasteurisasi ataupun susu kemasan karton yang bisa dibeli di supermarket. Bagaimana dengan susu bubuk mang ? Yah bisa juga kalau tidak ada alternatif lain sih, tapi yang Mamang coba, tingkat kegagalannya cukup tinggi.
Selanjutnya tentu mikroba yogurt starter atau kultur. Ini yang aksesnya paling sulit. Kalian bisa dapatkan starter yogurt ini ke laboratorium-laboratorium biologi atau peternakan di sekolah/universitas di dekat tempat anda. Tanya juga keluarga atau saudara anda, dimana bisa mencari kultur starter ini.
Atau kontak pengasuh Manglayang Farm, siapa tau kami masih ada stok. Tapi ndak janji ya. Alternatif lain, coba datangi supermarket atau gerai retail terdekat. Carilah produk yogurt yang tawar/natural dan kalau bisa ada kalimat mengandung kultur hidup, (contain live culture) atau ada tulisan nama teman-teman kecil kita, seperti si Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophilus atau yang lainnya. Disini kalian terpaksa harus trial and error. Beli beragam merek dan coba satu-satu untuk dibiakkan. Memang rumit ya, maaf, Mamang sementara ini tidak punya alternatif lain.
Harap di ingat juga, banyak Yogurt yang dijual di supermarket sudah di re-pasteurisasi untuk meningkatkan umur kadaluarsa (shelf time) yang ini kemungkinan besar akan gagal dibiakkan, karena teman-teman kecil kita sudah mati karena proses pemanasan kembali. Jangan beli yang model begini.
bersambung..



Mang, mana neh Yogurt bag.4 nya…
Lanjutan Yuk Kita Bikin??? Insyaallah mo coba2 bikin yogurt niy.
Comment by arum — May 24, 2007 @ 6:11 pm
Wadoh, belum sempat nih mamang bikin lanjutannya.. sabar ya.
Comment by manglayang — May 25, 2007 @ 1:32 am
menurut q percobaan ntu susah coszz q da di ryadh(bukan pamer looo!!!n_n
Comment by intan — August 26, 2007 @ 12:28 am
mang,makasih atas infonya dah saya coba dan berhasil.cuman ada pertanyaan ne mang,klo yogurt itu kita pasarkan,apakah perlu sertifikasi dr Depkes n BPOM?apalagi klo kita mau bikin spt kedai yogurt,krn sampe saat ini saya msh ragu untuk memasarkan langsung.trimakasih..
Comment by anto — October 24, 2007 @ 1:08 pm
#4 Senang sekali membaca bahwa kang Anto sudah mencoba membuat yogurt. Mengenai perijinan.. mamang kurang hapal dan ini isu yang sensitif hehe. Tapi mamang bisa kasih saran begini.
Registrasi perlu, coba kang Anto datang ke Dinas Kesehatan setempat dan tanyakan mengenai SP-PIRT (Sertifikat Penyuluhan - Pangan Industri Rumah Tangga), rasanya ngga usah sampai ke BPOM. Nanti akan diberi tahu bagaimana cara mendapatkan sertifikat tersebut.
Tapi kalau boleh saran juga, untuk industri rumahan jangan gagap menjual hanya karena belum punya nomor registrasi. Asal kang Anto bisa memastikan dan menjaga produk yang kang Anto jual aman dan tidak berbahaya bagi yang mengkonsumsinya, jualan saja dulu. Kalau sudah mulai jalan jangan lupa diproses registrasinya.
Kalau ingin membuka kedai, bisa ditanyakan kepada Dinas Perindustrian & Perdagangan setempat atau pada Dinas Pariwisata mengenai Izin restoran.
Comment by mang Layang — October 24, 2007 @ 1:25 pm
bagaimanakah cara mendapatkan bibit yoghurt yang berkualitas??
Comment by ilfan — November 6, 2007 @ 2:16 pm
Saya baru akan belajar membuat yogurt.Namun saya agak khawatir karena susu yang saya pakai merupakan susu UHT yang mempunyai rasa.Apakah rasa itu akan mempengaruhi hasilnya?dan bisakah rasa yogurt dibuat bermacam-macam(bukan hanya berasa asam,mungkin bisa menjadi asam-manis)?
Comment by Dian — December 28, 2007 @ 7:45 pm
bagai mana cara mendapatkan bibit / biang yogurt. kalo da yang jual di sekitar jogja dimana ya????
kalo ga ada dimana bisa mendapatkan / bikin tu bibit
Comment by jula — February 26, 2008 @ 1:21 am
Boss mana sambungannya Boss, ku berdoa semoga Boss kesepian dalam kesendirian seperti saya biar nulis sambungan nya Amien.
Comment by TONY_SAPI — May 19, 2008 @ 11:20 pm
dimana ya bisa dapetin starter yoghurt di sekitar depok?kalo di apotek ada ga ya?thx
Comment by dinda — June 29, 2008 @ 12:32 pm
kang, di surabaya atau sidoarjo dimana saya dapat bakterinya, trims
Comment by cholik — October 19, 2008 @ 12:12 pm
mang, di surabaya dimana saya bisa dapet starter nya? thx.
Comment by gitta — November 16, 2008 @ 6:31 am
udah lom q juga pingin dapat staternya
Comment by moestova — December 3, 2008 @ 4:11 pm
Mang yg baik, dimana sy bisa mendapatkan starter yogurt di derah jakarta selatan, katanya ada yg berupa bubuk spt susu powder ya /
makasih sebelumnya
Comment by Lala Hamid — December 16, 2008 @ 1:59 pm
Bagaimana mendapatkan starter yogurt yang baik di wilayah surabaya?
Thx
Comment by trixie — January 7, 2009 @ 8:40 pm
gimana buat bibit yogurt atau dimana dapat diperoleh di daerah medan
Comment by Agustina — January 9, 2009 @ 8:41 pm
iya mn donk lanjutannya, bag 4. ditunggu psn ya mang.
Comment by ARTI — January 21, 2009 @ 10:48 pm
kak tolong bantu aku yusun judul ini sampai beraapa bagian tentang ini aku sangat membutuhkanx
Comment by raka — May 10, 2009 @ 1:54 am
mang… aku udah nyobain yang mang saranin staternya pake yoghurt plain. and ternyata bisa, tapi emang bener kita harus nyobain plain produk mana yg bagus, ada yang hasilnya jadi asem,ada juga yg tidak begitu asem tapi menggumpal kayak es krim,trus kalo nentukan expirednya gimana tuh mang caranya…thx bgt mang….
Comment by indra — June 27, 2009 @ 5:16 pm
boleh tau yogurt plain yg anda pakai jadi starter nya merk apa ya?
Comment by arkana — July 16, 2009 @ 3:25 pm