HIJAUAN PAKAN TERNAK: Gamal (Gliricidia sepium)
Copyright (c) 2006 Manglayang Farm.
Permission is granted to copy, distribute and/or modify this document under the terms of the GNU Free Documentation License, Version 1.2 or any later version published by the Free Software Foundation; with no Invariant Sections, no Front-Cover Texts, and no Back-Cover Texts.

Gamal (Gliricidia sepium) sedang berbunga.
Taksonomi
Famili: Fabaceae (Papilionoideae)
Sinonim: Gliricidia lambii Fernald, G. maculata var. multijuga Micheli, Lonchocarpus roseus (Miller) DC., L. sepium (Jacq.) DC., Millettia luzonensis A. Gray, Robinia rosea Miller, R. sepium Jacq., R. variegata Schltdl.
Nama lokal
Gamal (Indonesia), Liriksida, liriksidia, Wit Sepiung (Jateng), Johar Gembiro Loka (DIY). Jawa Timur: Kelorwono, Joharlimo, Johar Bogor. Sunda: Cebreng, Cepbyer (Jabar), Kalikiria (Ciamis), Angrum (Garut).
Nama Lain
Mother of cocoa, Quick stick (Inggris), Filipina: Balok-balok (Tagalog), Apatot (Bikol), Kukuwatit (Pangasinan). Laos: Kh’è:nooyz, khê falangx. Thailand: Khae-farang. Vietnam: Anh dào gi’a, sát thu, hông mai. Nicaraguan cocoa shade, cacahuananche, madre de cacao (Guatemala), madriado (Honduras), madricacao, mata ratÓn, mataratÓn, madera negro.
Kerabat
Dua jenis lain dari genus ini adalah G.brennigii dan G. maculata. Hanya G. sepium yang tumbuh di luar sebaran alaminya di Amerika tropika. G. sepium dibedakan dengan dua jenis lainnya dari susunan bunga yang tegak, bunga merah muda, dan ujung helai daun meruncing. Sedangkan G. maculata bunganya berwarna putih dengan polong dan biji yang sedikit lebih kecil dari G. sepium.
Hibrid buatan G. maculata dan G. sepium telah dilakukan, tetapi belum dipastikan hibridisasi terjadi secara alam. Hibridanya tidak potensial untuk penanaman. (Jurnal Informasi Singkat Benih, Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan, Desember 2002).
Distribusi
Gamal adalah pribumi di kawasan Pantai Pasifik Amerika Tengah yang bermusim kering. Ditemukan mulai dari permukaan laut hingga ketinggian 1200 meter. Akan tetapi, tumbuhan ini telah lama dibudidayakan dan bernaturalisasi di wilayah tropika Meksiko, Amerika Tengah, dan bagian utara Amerika Selatan, sampai pada ketinggian 1.500 m. Jenis ini juga telah diangkut ke wilayah Karibia dan kemudian ke Afrika Barat. Ia di introduksikan ke Filipina oleh orang Spanyol pada awal tahun 1600-an, dan ke Sri Lanka dalam abad ke-18l dari sana tumbuhan ini mencapai negara Asia lain, termasuk Indonesia (kira-kira tahun 1900), Malaysia, Thailand dan India.
Gamal diperkirakan masuk ke Indonesia untuk digunakan sebagai tanaman pelindung pada areal perkebunan di daerah Medan (Harian Umum Suara Karya, 19 Mei 1992).
Pemanfaatan
Gamal telah dimanfaatkan secara luas untuk berbagai keperluan. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu bakar, arang atau juga sebagai bahan bangunan dan alat pertanian. Tanaman ini juga digunakan dalam berbagai sistem pertanaman, sebagai pohon pelindung dalam penanaman teh, cokelat atau kopi. Sebagai penyangga hidup untuk tanaman vanili, lada hitam dan ubi jalar. Yang lebih umum digunakan sebagai pagar hidup, tanaman pupuk hijau pada pola tanam tumpang sari, sebagai penahan tanah pada pola tanam lorong dan terasering.
Selain itu, tanaman ini juga ternyata dapat digunakan untuk mereklamasi tanah atau lahan yang gundul atau tanah yang rapat ditumbuhi oleh alang alang (Imperata cylindrica). Bahkan konon, nama Gamal itu merupakan akronim dari Ganyang Mati Alang-alang.
Biji, pepagan, daun dan akarnya dapat digunakan sebagai rodentisida dan pestisida setelah terlebih dahulu dilakukan fermentasi.
Bunganya digunakan oleh lebah sebagai sumber nutrisi dan zat gula dalam pembuatan madu lebah. Bahkan di beberapa daerah, Gamal ditanam sebagai tumbuhan eksotik dan penghias taman karena memiliki bunga berwarna lembayung yang indah. Di beberapa tempat di Afrika, masyarakat disana memakan bunga gamal setelah terlebih dahulu di rebus.
Gamal dipercaya sebagai tanaman multiguna yang paling banyak di budidayakan kedua terbanyak setelah Lamtoro (Leucaena leucocephala), dalam beberapa kasus Gamal dapat menghasilkan biomasa sama atau bahkan lebih banyak daripada Lamtoro (Stewart et al. 1992). Salah satu sebab mengapa Gamal ini cepat populer adalah resistensinya terhadap hama kutu loncat (Heteropsylla cubana) yang telah meluluhlantakan Lamtoro di berbagai belahan dunia tropis. (FAO 1998)

Gamal ditanam sebagai penahan angin, bank protein, pakan ternak dan pagar hidup.
Perkembangbiakan dan penanaman
Meskipun Gamal dapat diperbanyak dengan biji, tapi kami lebih sering menggunakan setek batang dalam usaha mengembangbiakan Gamal. Alasan pertama adalah, sulitnya mencari dan mengumpulkan biji Gamal.
Di berbagai tempat yang kami temui, jarang pohon Gamal yang dapat tumbuh sampai besar, berbunga dan berbiji. Hal ini disebabkan Gamal sudah secara berkala di panen daun dan batangnya, jarang yang dapat tumbuh sampai berbunga dan berpolong. Alasan lain, perbanyakan dengan setek batang lebih mudah dan lebih cepat daripada melalui biji. Tanaman yang diperbanyak dengan setek sudah dapat dipanen perdana pada usia di bawah 1 tahun. Biasanya 8-10 bulan. Sedangkan pada tanaman biji, hasil biomasa baru dapat diperoleh pada usia sekira 2 tahun.
Penanaman setek lebih baik berasal dari batang bawah tanaman yang cukup usia (diatas 2 tahun), diameter batang cukup besar (diatas 4cm) dengan panjang setek bervariasi mulai dari 40cm sampai 1.5m. Jarak tanam juga bervariasi, antara 40 -50cm sampai dengan 1.5 – 5m tergantung kebutuhan.

Plot penanaman Gamal di Cijayana.
Meskipun kadang-kadang menggugurkan daunnya pada musim kering dan kondisi udara dingin, Gamal dapat dikategorikan sebagai pohon yang selalu hijau (evergreen). Dapat dipanen setiap 3 – 4 bulan sekali, dengan hasil antara 1 – 2 kg hijauan basah per tanaman.
G. sepium merupakan tanaman yang cocok untuk tanah asam dan marginal seperti diutarakan oleh Szott et al. (1991). Lebih lanjut, Whiteman et al. (1986) menilai Gamal beradaptasi dengan baik pada tanah dengan kandungan kalsium rendah seperti di Australia. Sayangnya, pada tanah yang mengandung saturasi Alumunium cukup tinggi seperti beberapa daerah di Indonesia, Gamal tumbuh kurang baik dan memiliki tingkat tahan hidup yang rendah (Dierolf dan Yost, 1989)
Beberapa literatur menyebutkan waktu penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Namun kami mendapatkan sedikit masalah ketika curah hujan terlalu tinggi. Banyak setek tanaman menjadi busuk akibat curah hujan yang tinggi. Kami biasanya menanam pada tengah atau bahkan akhir musim hujan atau membuat guludan (raised bed) di sekitar lokasi penanaman apabila diperkirakan curah hujan tinggi.

Gamal sebagai tanaman pelindung Kelapa. Tidak tahan pada kondisi terendam air.
Nilai Pakan
Sebagai pagar hidup dan suplemen pakan ternak, Gamal dapat ditanam dengan jarak 40cm – 50cm sepanjang pagar. Sehingga apabila anda memiliki pagar Gamal sepanjang 400 meter, anda akan memiliki 800 – 1000 pohon yang diharapkan dapat menghasilkan hijauan sekira 10kg per harinya.
Gamal mengandung nilai gizi yang tinggi. Protein kasar berada diantara 18-30% dan nilai ketercernaan 50-65% (lihat tabel).

Tabel komposisi nutrisi Gamal.
Daun gamal sebaiknya dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Beberapa literatur menyebutkan pelayuan selama 12 – 24 jam terbukti meningkatkan kuantitas asupan pakan.
Pada ternak (terutama sapi) yang belum terbiasa terhadap Gamal, perlu dilakukan pembiasaan terlebih dahulu. Caranya bisa dengan ternak dilaparkan dahulu.
Selama setengah hari (dari pagi sampai sore) tidak diberi makan, tapi tetap diberi air minum yang cukup. Baru pada malam hari diberikan daun Gamal yang telah dilayukan dan kemudian rumput. Pada pemberian selanjutnya biasanya tidak perlu dilaparkan lagi, ternak sudah akan langsung menyantap daun Gamal.
Daun Gamal juga cukup baik untuk diawetkan dengan menggunakan metoda silase baik dicampur dengan bahan lain maupun tunggal, dalam beberapa percobaan awal yang kami lakukan, silase campuran daun Gamal, Lamtoro dan rumput gajah menghasilkan wangi dan rasa yang disukai ternak. Namun kami belum melakukan percobaan lebih lanjut yang dapat mendukung hipotesa ini (lihat bagian Racun dan Zat Anti Nutrisi dibawah ini).
Racun dan Zat Anti Nutrisi
Walaupun sangat bermanfaat bagi ternak, tingkat racun dalam Gamal juga sudah dikenal sejak lama. Di Amerika Tengah, daun dan kulit kayu yang ditumbuk dicampur dengan rebusan biji jagung digunakan sebagai racun tikus dan racun binatang pengerat (rodenticidal). Di beberapa daerah pesisir Jawa Barat juga ditemukan penggunaan kulit batang dan biji Gamal sebagai campuran bahan pembuat racun ikan.
Sekurangnya ada beberapa jenis komponen racun dalam Gamal.
Zat racun yang pertama adalah dicoumerol, suatu senyawa yang mengikat vitamin K dan dapat mengganggu serta menggumpalkan darah. Dicoumerol diperkirakan merupakan hasil konversi dari coumarin yang disebabkan oleh bakteri ketika terjadi fermentasi. Meskipun coumarin tidak beracun, ketika berubah menjadi senyawa dicoumerol dapat berbahaya bagi pengonsumsinya, terutama pada ternak monogastrik seperti kelinci dan unggas. Fakta lapangan menunjukkan tidak banyak ternak ruminansia yang keracunan dicoumerol yang disebabkan oleh daun Gamal.
Senyawa racun yang kedua adalah HCN (Hydro Cyanic Acid), sering disebut juga Prussic Acid, Asam Prusik atau Asam Sianida. Meskipun kandungan HCN dalam Gamal tergolong rendah, 4mg/kg, dibanding umbi singkong/ketela pohon yang dapat mencapai 50-100mg/kg namun hal ini perlu juga diwaspadai.
Zat lain yang perlu diperhatikan adalah Nitrat (NO3). Sebetulnya nitrat itu sendiri tidak beracun terhadap ternak, tapi pada jumlah yang banyak dapat menyebabkan penyakit yang disebut keracunan nitrat (nitrate poisoning). Nitrate yang secara alamiah terdapat pada tanaman di rubah menjadi nitrit oleh proses pencernaan, pada gilirannya nitrit dikonversi menjadi amonia. Amonia kemudian di konversi lagi menjadi protein oleh bakteri dalam rumen. Apabila ternak sapi mengkonsumsi banyak hijauan yang mengandung nitrat dalam jumlah besar, nitrit akan terakumulasi di dalam rumen. Nitrit sekurangnya 10 kali lebih beracun terhadap ternak sapi dibandingkan nitrat. Nitrit diserap kedalam sel darah merah dan bersaru dengan molekul pengangkut oksigen, hemoglobin sehingga membentuk methemoglobin.
Sayangnya, methemoglobin tidak dapat membawa oksigen dengan efisien seperti hemoglobin, akibatnya detak jantung dan pernafasan ternak meningkat, darah dan lapisan kulit berubah warna menjadi biru kecoklat coklatan, otot gemetar, sempoyongan dan bila tidak segera ditangani dapat mati lemas.
Selain itu, dalam Gamal juga terdapat molekul alkaloid yang belum dapat diidentifikasi dan senyawa pengikat protein yang juga tergolong zat anti nutrisi, tannin walaupun dalam konsentrasi yang cukup rendah dibandingkan Kaliandra (Calliandra calothrysus).
Pun demikian, kasus kasus keracunan pada pemakanan yang teratur sangat terbatas. Bukti bukti diatas memang menunjukkan bahwa Gliricidia dapat menyebabkan keracunan pada ternak non-ruminansia, tapi fakta lapangan yang mendukung hal tersebut sangat sedikit. Bahkan menurut Lowry (1990), masalah utama dari Gliricidia bukan pada tingkat racunnya, tetapi pada tingkat kesukaan (palatability).
Seperti telah dikemukakan diatas, ternak cenderung menolak daun Gamal baru dengan mengendusnya saja, belum dicicipi. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa masalahnya berasal dari suatu senyawa yang menghasilkan aroma yang menguap dan keluar dari permukaan daun dan tidak disukai ternak. Hal ini didukung oleh fakta lapangan yang kami temui.

Daun tua (kiri) dan daun muda. Atau spesies yang berbeda ?
Kesimpulan
Gamal memang merupakan salah satu tanaman yang multi guna. Khusus sebagai pakan ternak hewan ruminansia terutama sapi, Gamal adalah kombinasi dan partner yang baik bagi rumput gajah (Pennisetum purpureum). Penanaman dapat dilakukan secara berselang seling baris dengan rumput Gajah dengan metoda alley cropping atau ditanam memanjang sebagai pagar hidup. Dengan cara ini manfaat yang diperoleh dapat berlipat ganda. Selain pupuk hijau, penahan angin juga sebagai bank protein bagi ternak ruminansia. Keunggulan lain dari gamal adalah kemampuan adaptasi yang sangat luas terhadap berbagai kondisi tanah dan klimat, mudah ditanam, dan mampu memproduksi biomasa yang cukup besar, selaras dengan kandungan nutrisi dan protein yang sangat tinggi.
Sedangkan kandungan racun dan zat anti nutrisi terutama bagi ternak monogastrik, walaupun perlu diwaspadai, merupakan kendala kecil bagi pemanfaatan gamal dibandingkan dengan manfaat yang bisa diperoleh. Apalagi dengan penanganan yang tepat (pelayuan/wilting) dan manajemen pakan yang baik, masalah ini dapat di minimalisir. Pun demikian kami tidak menyarankan untuk memberikan gamal pada ternak selain ruminansia.
Gamal juga merupakan tanaman yang tidak rewel dan relatif aman dari serangan hama. Ada literatur yang menyebutkan OPT berupa kutu kecil, aphid dan beberapa jenis serangga namun kerusakan yang ditimbulkannya tidak signifikan dan secara umum dapat diabaikan.
Referensi
- Universitas Cornell, Fakultas Ilmu Hewan http://www.ansci.cornell.edu/ansci.html
- Tropical Forages http://www.tropicalforages.info/
- Forage Tree Legumes in Tropical Agriculture, FAO 1998
- Jurnal Informasi Singkat Benih, Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan, Desember 2002
- Legum Pohon Gamal. Direktorat Jenderal Peternakan 1999. Petunjuk Teknis Budidaya Pakan Hijauan. Kerjasama Direktorat Jenderal Peternakan Direktorat Bina Produksi dan JICA
- PROSEA, Sumber Daya Nabati Asia Tenggara buku 4, PT. Balai Pustaka, Prosea Indonesia
- Nitrate Poisoning of Livestock. North Dakota State University. 1998 http://www.ext.nodak.edu/extpubs/ansci/livestoc/v839w.htm




good
Comment by muhrishol yafi — March 24, 2006 @ 2:48 pm
kebutuhan kandungan pakan untuk sapi induk (laktasi)baik hijauan dan konsentrat standarnya berapa?thx
Comment by fauzi — July 25, 2006 @ 2:15 pm
kalau bisa disediakan bagai mana cara megolah bahan pakan yang asalnya dari bungkil-bungkil menjadi bahan pakan ternak
Comment by m. fatoni — September 24, 2006 @ 8:28 pm
Apakah saya bisa mendapatkan artikel atau hasil penelitian silase rumput sudan (Sorghum sudanense), terima kasih atas bantuannya
Comment by christna — September 28, 2006 @ 12:27 pm
#4 Sebetulnya di internet banyak sekali resources mengenai ini bisa search di google.
Kami menanam dua jenis sorghum, yang satu adalah Sorghum bicolor, yang satu lagi.. nha kami tidak tahu namanya. Bila lihat di gambar, mirip dengan S. sudanesse, hanya batangnya coklat dan bergula, mungkin hybrid ya..
Comment by mang Layang — September 28, 2006 @ 1:08 pm
#2 Idealnya konsentrat untuk sapi laktasi protein kasar 16%-18% dan tdn 70%.. hanya katanya konsentrat yang sekarang ada di pasaran PK-nya dikisaran 10 - 11% saja..
#3 Sebetulnya cuman dua cara, diberikan begitu saja/dicampur dgn bahan lain dan di proses kembali misalnya dengan fermentasi atau cara lain..
Comment by mang Layang — September 28, 2006 @ 1:28 pm
Halu kang!!!! Boleh Tanya sedikit tentang estimasi penggunaan pakan yang ideal untuk sapi??????// Begini kang saya beberapa waktu lalu melakukan coba-coba penggunaan pakan yang saya lakukan selama musim kemarau dikarenakan di daerah saya terkena dampak kekeringan yang begitu lama sehingga saya menggunakan pakan yang saya campur-campur dengan berat 100kg untuk 5 ekor sapi sedangkan campuran pakan tersebut terdiri dari 60kg rumput gajah, 10kg ketela pohon, 5kg bekatul, 20kg cincangan pohon pisang, 5kg bahan kering untuk seratnya seperti tongkol jagung dan sebagainya….yang saya tanyakan pertama apakah bahan-bahan tersebut sudah ideal untuk penanganan pakan pada masa kemarau panjang mengingat di daerah saya hanya bahan-bahan tersebut yang dapat ditemukan pada musim kemarau,, yang kedua berapa kandungan gizi pakan yang saya berikan dan apakah ideal untuk usaha penggemukan sapi????? Perlu diketahui pakan tersebut juga saya coba berikan ke beberapa ekor kambing jenis PE dan hasilnya kambing menunjukkan gemuk yang signifikan tetapi pada sapi saya tetap pada semula tidak kurus juga tidak gemuk… terima kasih atas penjelasannya mohon penjelasannya secara lengkap ke email saya warenx@yahoo.com
Comment by aditya pria — November 28, 2006 @ 10:47 am
Halu kang Aditya,
Pertama-tama, punten.. saya sama sekali bukan ekspert dalam peternakan sapi, apalagi nutrisi hehe. Tapi sharing saja ya kang.
Kalau dilihat dari sisi kepraktisan dan komposisi menu, saya rasa untuk musim kemarau sudah cukup mewah ya. Sapi kami saja (holstein/perah) menu utamanya terpaksa 80% jerami selama akhir musim kemarau ini hehe.
Tapi bila dilihat dari kandungan proteinnya sepertinya masih kurang untuk finishing penggemukan. Perkiraan kasar, kandungan protein dari menu tersebut masih dibawah dari idealnya sekitar 12% atau lebih..
Juga yang perlu diperhatikan jumlah dan cara pemberiannya. Sudah berapa lama pemberian menunya ? Selain itu.. apakah sudah rutin pemberian obat cacing ?
Btw, sharing lebih lanjut saya mengajak kang Aditya dan rekan2 lain untuk bergabung saja di milis berkebun[at]yahoogroups.com yang alamatnya bisa dilihat juga di http://manglayang.blogsome.com/kontak-kami/.
Comment by manglayang — November 28, 2006 @ 10:14 pm
yah terima kasih, tetapi keterangan tentang, kandungan protein itu bagaimana cara mengatasinya, kan pd wktu kemarau hanya dapat di tambahkan ketela pohon dan daunnya saja dan syaa tambahkan sedikit daun gamal….. kok
Comment by aditya pria — November 29, 2006 @ 7:33 am
ADa gak ya Buku tentang Gliricidia sepium Jacq (Gamal)?? kalo ada dmn ya gw bisa dapetin bukunya?? Thanks…. blz ya secepatnya gw butuh neh.. thanks ya…
Comment by priyanto — December 3, 2006 @ 5:51 am
#9 banyak tanaman pakan ternak lain yang mengandung protein tinggi. Namun demikian pola yang biasa dilakukan oleh peternak/feed lotter untuk finishing penggemukan adalah menggunakan ransum atau konsentrat berprotein tinggi dari sisa pengolahan pangan. Sudah coba ampas tahu/bungkil kedelai ?
Comment by manglayang — December 4, 2006 @ 4:11 am
#10 Sepanjang pengetahuan kami belum ada buku yang khusus membahas mengenia G. sepium. Mungkin anda bisa cari di situs toko buku luar negeri ?
Comment by manglayang — December 4, 2006 @ 4:13 am
kasih info donk tentang kulit singkong yang bisa dijadiin pakan awetan buat ternak
Comment by zaza — December 20, 2006 @ 11:57 pm
Kang kalau mau berkunjung ke manglayang alamatnya dimana? h nuhun
Comment by iwa — January 25, 2007 @ 8:44 pm
Trimakasih Kang, saya sudah dapat info ttg tanaman gamal dari website ini. tengkyu Kang.
Comment by Bambang — March 11, 2007 @ 6:37 am
Tengkyu Kang atas info tanaman gamal ini.tengkyu.
Comment by Bambang — March 11, 2007 @ 6:42 am
Saya butuh artikel/data/hasil penelitian dari rumput sudan (sorghum sudanense). Terimakasih atas perhatiannya.
Comment by debbi — April 9, 2007 @ 2:07 pm
Coba lihat posting #4
Comment by manglayang — May 6, 2007 @ 10:57 am
Tulisannya bagus.. Membuat saya lebih tertarik pada peternakan..
Ternyata banyak yang bisa kita gali dari sekitar kita ya.. Keep Writing for the better world
Comment by Diah — August 31, 2007 @ 12:14 pm
Dimanakah saya bisa mendapatkan bibit pohon gamal dalam jumlah yang banyak? Mohon dijawab ke alamat email saya. Terimakasih atas bantuan Bapak
Comment by Diah K — September 10, 2007 @ 11:46 am
Dimanakah saya bisa mendapatkan bibit pohon gamal dalam jumlah yang banyak? Mohon dijawab ke alamat email saya. Terimakasih atas bantuan Bapak
Comment by Diah K — September 10, 2007 @ 11:48 am
Bapak-2
Saya tinggal di Banduung
Dimana kira-2 saya bisa dapat pohon gamal tsb
Mohon infonya
Terima kasih
Salam
Bambang Puur
Comment by Bambang Pur — October 6, 2007 @ 8:58 pm
Dimana lokasi pastinya Manglayang Farm ? Hari senin kemarin saya iseng-iseng mencari lokasi tersebut sampai ke Cipulus, garung dan cikoneng, tapi gak ketemu, tks
Comment by Ridwan — December 27, 2007 @ 1:53 pm
#23 wah padahal sudah dekat ya pak, di Kp. Garung. Lihat skema lokasinya di: http://manglayang.blogsome.com/kontak-kami/ . Lebih baik lagi kalau mau berkunjung kontak dulu pak, karena kami tidak setiap saat ada di tempat.
Comment by mang Layang — December 28, 2007 @ 4:23 pm
mohon diulas tentang bioarang selengkap lengkapnya!
Comment by udin — February 1, 2008 @ 11:24 am
saya menanyakan bibit gamal di sekitar jakarta ?
Comment by slamet — February 8, 2008 @ 8:21 am
kang,,mohon ijin ngopy artikelnya boleh ya??
Comment by adi — May 3, 2008 @ 8:52 pm
#26 maaf kami tidak punya informasi mengenai itu pak.
#27 silahkan kang, selama mencantumkan sumber dan alamat web blog ini.
Comment by manglayang — May 4, 2008 @ 11:40 pm
saya ingin tanya mengenai jenis hijauan rumput pakan ternak yang pernah diterapkan di grati pasuruan jawa timur
Comment by Eka bs — June 25, 2008 @ 9:20 pm
Saya coba tanya sana-sini di sekitar saya tentang apa itu pohon gamal gak ada yang tahu, tapi di sekitar saya ada banyak pohon yang sangat mirip dengan uraian artikel ini, tapi namanya bukan gamal melainkan Resede atau ada yang nyebut Katede. Apakah itu sama ? Mohon pencerahan. thx.(Daerah saya Magelang Jawa Tengah).
Comment by Santoso — August 13, 2008 @ 8:41 am
tolong jelaskan pengembangan hijauan pakan ternak
Comment by serli anas — December 20, 2008 @ 11:24 am
apakah bisa dilakukan silase campuran jerami jagung dengan daun gamal?
Comment by andi immank — December 20, 2008 @ 2:40 pm
#32 bisa pak, kami sudah coba dan baunya harum sekali, ternak pasti suka. Perbandingan yang kami coba kira2 80 bagian jerami jagung, 20 bagian daun gamal.
Comment by mang Layang — December 20, 2008 @ 5:11 pm
resiko gamal beracun pa bisa dihilangkan ?
menurut pengamatan saya kambing yang diberi pajan gamak aromanya sangat tajam, tapi ada keuntungannya yaitu ternak lebih tahan penyakit, terutama penyakit kulit
Comment by m asri — May 29, 2009 @ 8:08 am
thanks. info baguus
Comment by Rofiq — June 4, 2009 @ 7:59 pm
apakah gamal sama dengan “apapa”.?
kemudian untuk pasaran gamal gmn prospeknya. trims
oh ya maaf mengkopy
Comment by fernando — December 23, 2009 @ 2:34 pm
#30 mungkin liriksede, lirikside atau yang kurang lebih bunyinya begitu, mungkin serapan dari gliricida.. saya rasa sama pak.
#34 pelayuan akan menghilangkan sebagian dari HCN..
#36 waduh, itu bahasa di daerah mana pak? maaf tidak pernah dengar.. untuk pasaran terus terang kalo di sini belum laku
. Tapi jika bisa diolah dan dikemas mungkin dalam bentuk complete feed, silase atau UMB mungkin bisa juga.
Comment by manglayang — December 23, 2009 @ 4:52 pm