Tadi malam kami berkesempatan menyaksikan dan terlibat dalam peristiwa yang cukup langka, kelahiran bayi sapi perah Fresian Holstein. Sayangnya kami tidak membawa kamera untuk mengabadikan peristiwa yang menggembirakan ini. Kronologis catatan kejadian adalah sebagai berikut:
29/11/2005
18:00
Sapi betina dara (heifer) dengan nomor telinga 1 02 02 sudah masuk hari melahirkan setelah bunting selama 280 hari. Sapi dara ini dikawin dengan cara Inseminasi Buatan (IB), donor sperma adalah sapi jantan Fresian Holstein bernama Castella yang dipelihara di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang.
Anak kandang menyampaikan bahwa menurut pengalaman, bayi akan lahir tidak kurang dari 2 jam lagi. Ditandai dengan ternak gelisah, sering mengejan dengan punggung melengkung. Dia juga berpesan “Tolong jangan pulang dulu, nanti bantu narik anak”. Wah anak kok di tarik tarik
.
19:40
Tepat juga feeling si anak kandang, dari vagina ternak mulai keluar darah. Mengejan semakin sering. Kami ber-empat menunggu dan siap sedia di pinggir kandang. Air hangat disiapkan, juga ember untuk susu perah dan botol dot. Anak kandang mulai membuka bajunya “Sayang ah bajunya, nanti kotor”
19:55
Terlihat balon ketuban mulai keluar, balon transparan tersebut kira kira berukuran sedikit lebih kecil dari bola sepak, didalamnya berisi cairan ketuban. Orang sunda menyebutnya pangeprok, atau bisa diartikan sebagai pengawal suatu kelahiran. Kami terus memperhatikan dengan seksama dan tetap berusaha tidak membuat keributan. Disini si anak kandang kembali memakai bajunya “Tiris oge euy” (dingin juga). Jelas, di malam hari seperti itu, apalagi Manglayang habis di guyur hujan lebat, udara berkabut dan dingin. Kami hanya tersenyum saja.
20:03
Ternak mengejan dengan hebat, dan keluarlah sepasang kuku sapi berupa tulang berwarna putih. Si ibu terus berusaha mengeluarkan anaknya, namun kelihatan sangat kesulitan. Kejadian ini berlangsung selama kurang lebih 3 menit. Dan ketika terlihat bahwa si ibu sudah kepayahan, anak kandang berinisiatif “Yuk kita tarik aja”. Nah ini dia tarik tarikan yang tadi disebutkan.
20:08
Penarikan dilakukan dengan memegang ujung kaki pedet tersebut, dan menarik keluar sekuat tenaga. Setelah menarik narik sepasang kaki depan tersebut dengan cukup susah payah (penulis khawatir kaki tersebut tiba tiba copot
), akhirnya seluruh badan anak sapi dapat ditarik keluar!. Rupanya yang mengganjal itu adalah bagian kepala, ketika kepala sudah keluar, badan dan kaki belakang dengan mudah tertarik keluar. Anak kandang dengan sigap segera membopong anak sapi betina berbobot sekitar 40 kilogram yang masih berlumuran darah dan cairan lendir itu agar tidak jatuh dengan pakaian lengkap. Lupa dia akan kekhawatiran bajunya kotor
.
20:10
Prosedur yang biasa dilakukan setelah kelahiran ini seperti yang biasa dilakukan oleh peternak setempat adalah segera menggerak gerakkan tubuh, leher serta kaki depan dan belakang anak sapi tersebut, selain untuk memeriksa, juga untuk menstimulan pergerakan tubuh si anak. Selanjutnya adalah membersihkan tubuh anak sapi dengan lap kering. Disini kami berinisiatif untuk membopong si anak ke dekat ibunya, dan membiarkan ibunya yang menjilati tubuh si anak sampai kering. Hal ini selain karena memang insting natural hewan, proses penjilatan ini dapat merangsang keluarnya hormon hormon yang berguna baik dari si anak maupun ibunya. Salah satu hormon yang dapat terangsang dengan proses penjilatan ini adalah hormon oksitosin, yang berperan dalam menstimulan kelenjar pemproduksi susu. Sebetulnya kami ingin sekali membiarkan anak dan ibu tersebut bersama sama sekurangnya satu malam. Kami meyakini bahwa hal tersebut sangat baik bagi keduanya. Pedet dapat meminum air susu secara tidak terbatas dengan menetek langsung pada ibunya. Namun karena kondisi kandang yang kurang representatif dan takut si anak terinjak oleh ibunya akhirnya setelah si anak cukup bersih dijilati, kami membopongnya kembali ke kandang khusus anak yang sebelumnya telah dilapisi dengan jerami dan rumput kering.
Di sini si anak mulai berusaha berdiri sendiri, namun berulang kali jatuh karena belum kuat dan terpaksa kami betulkan posisinya, karena khawatir ada yang terkilir.
20:20
Pemerasan susu pertama (colostrum) dilakukan. Susu colostrum yang masih berwarna merah ini (karena mengandung serum darah) diyakini memiliki kandungan nutrisi dan serum antibodi yang diantaranya adalah immunoglobulins (Ig) yang sangat tinggi. Oleh karenanya beberapa literatur mewanti wanti jangan terlambat memberikan susu pertama untuk anak sapi. Maksimal dalam 30 menit setelah kelahiran, susu colostrum pertama ini harus diminum oleh si anak sekurang kurangnya sekitar 2 liter. Dan pada usia kurang dari 24 jam minimal 4 liter colostrum dapat terminum.
Kami memberikan colostrum di dalam botol air mineral yang dilubangi tutupnya dan diberi selang (agar mirip dengan dot) sekira 2.5 liter, sampai si anak kenyang dan tidak mau meminumnya. Pemberian pertama kali dilakukan dengan membasahi ujung jari kita dengan colostrum dan membiarkan pedet mengisap ujung jari kita, setelah terbiasa, ujung selang dari botol mineral kita selipkan pada mulut pedet, dan jari kita tarik. Dengan cara ini pedet dengan cepat dapat mengenali dan meminum susu dari botol dot. Untuk selanjutnya kami biasanya melatih pedet untuk meminum susu langsung dari ember.
Sisa colostrum kami masukkan dalam botol plastik dan dimasukkan dalam kulkas agar dapat diminumkan kemudian setelah dihangatkan sesuai suhu tubuh si anak.
20:40
Pengetahuan indigenous dari peternak sekitar biasanya memberikan campuran 4 butir telur ayam dan sekitar 250 gram gula merah sebagai penambah tenaga sapi induk yang baru melahirkan. Kami memberikan ramuan ini dan langsung disantap habis oleh si Ibu. Selanjutnya dalam bak pakan, kami menyediakan rumput hijauan dan air minum yang bersih kepada si ibu. Sebelumnya anak kandang juga membersihkan vagina dan sekitar daerah kelahiran si Ibu dengan air hangat, dan memberikan larutan Iodium tincture (Betadine) pada daerah kelahiran dan pusar si Anak.
20:50
Proses kelahiran dianggap selesai ditandai dengan keluarnya satu balon transparan lagi (ketuban lagi ?). Anak kandang menyebutkan, biasanya bali (placenta) akan keluar secara normal besok pagi, dan bila tidak keluar biasanya kami meminta bantuan veteriner untuk mengeluarkan bali dan memberikan post-partum treatment.
Saat ini si anak sudah mulai dapat berdiri dengan tegak, dan berjalan terhuyung huyung.
Selamat kepada ibu baru, semoga ibu dan anaknya sehat
.



wah,,,seru juga tu ngeliat sapi ngelahirin,,,wktu gw ksono yang gw liat cuma sapi2 lg makan,,,ga bgitu seru d,,,
pengen d ksono lagi,,,dah,,,
Comment by ayash — February 16, 2007 @ 8:45 am