VCO (Virgin coconut oil) saat ini memang sedang dalam masa keemasan. Banyak orang mulai membuat dan memproduksi VCO, seperti rekan kami yang mengemas produk berlabel Lisah Kalapa.
Salah satu by-product (limbah) dari produksi VCO ini adalah bungkil atau ampas kelapa. Daging kelapa yang dalam pembuatan VCO hanya diambil santan-nya saja tersebut terkadang hanya dibuang begitu saja. Padahal berat daging kelapa yang adalah sekitar 34% - 42% dari keseluruhan buah kelapa (Hutagalung, 1981) itu masih mengandung nutrisi yang berguna bagi ternak, khususnya hewan ruminansia besar. Daging buah kelapa mengandung 18% protein kasar, 8% lemak, 12% serat kasar dan sekitar 6,3 - 7 KJg energi yang dapat di metabolis (Hutagalung, 1981).
Beberapa penelitian dan fakta dari literatur yang penulis baca juga mengungkapkan hal tersebut (FAO, 1995).
Belum lagi literatur lain yang menunjukkan bahwa pemberian lemak dalam tingkat tertentu memperlihatkan hasil yang positif dari sisi reproduksi dan kesuburan ternak.
Beberapa fakta lapangan di Cijayana, Garut selatan (tempat Lisah Kalapa diproduksi) juga meng-aminkan hal tersebut. Sapi sapi pedaging dari jenis lokal dan PO (Peranakan Ongole) yang diberi ampas kelapa dan kanil hasil produksi VCO memperlihatkan hasil yang positif dari sisi reproduksi.
Berkaitan dengan hal tersebut penulis ingin mencobakan hal yang sama pada sapi perah di Manglayang Farm. Setelah berburu kesana kemari (di Bandung ternyata agak sulit mendapatkan ampas kelapa), akhirnya kami berhasil mendapatkan ampas ini dari produsen VCO di salah satu universitas terkenal di Bandung.
Sejauh ini (percobaan baru berlangsung 1 minggu) pemberian ampas kelapa ternyata memberikan beberapa fakta awal yang menarik.
Percobaan pada sapi perah Fresian Holstein yang produktif pada konsentrasi ampas kelapa 1 - 2 kg / hari belum berpengaruh signifikan terhadap kuantitas produksi susu. Jumlah produksi sampai saat ini masih relatif stabil.
Namun mayoritas sapi memperlihatkan respon yang sama, makan cukup lahap pada saat pemberian pertama kali, tetapi besoknya cenderung malas makan, bahkan ketika diberi rumput pun jadi ogah ogahan. Kondisi ini berlangsung sekitar 2 - 3 hari. Kami rasa hal ini disebabkan feeding stress, perut ternak kaget dengan perubahan pakan yang drastis. Apalagi hal ini dibarengi dengan kondisi ketersediaan pakan konsentrat dan ampas tahu (yang biasa diberikan pada ternak) yang pada saat percobaan dimulai tidak tersedia seperti biasa.
Beberapa fakta dan literatur juga menunjukkan bahwa volume dan kualitas pakan yang diberikan pada sapi perah Fresian Holstein sebaiknya stabil dan jangan dilakukan perubahan yang mendadak. Hal tersebut terjadi karena ternak mengkonsumsi terlalu banyak zat tepung atau gula dalam bentuk karbohidrat sehingga rumen menjadi asam, penyakit ini disebut acidosis.
Namun ada satu kasus pada sapi dara bunting yang jadi tidak mau makan sama sekali (acidosis akut) setelah diberikan ampas kelapa. Berbagai cara sudah dicoba untuk merayu sapi ini agar mau makan, sampai akhirnya pada pagi hari ini terpaksa diberikan treatment pengobatan larutan preparat calcium dan multi vitamin karena ternak bersangkutan menunjukkan kondisi yang semakin parah, bahkan sampai lumpuh dan tidak bisa bangun. Wow.
Sore tadi kondisinya masih juga belum membaik, bahkan semakin buruk dengan terdeteksinya kembung (bloat) di rumen sebelah kiri yang memaksa kami untuk memberikan lagi tambahan obat anti kembung dan mempersiapkan trokar untuk mengeluarkan gas di dalam rumen secara paksa apabila obat tidak berhasil. Wah seru juga nih
.
Jadi pelajaran yang dapat kami ambil dari peristiwa ini adalah, jangan merubah menu pakan ternak dengan mendadak, baik volume maupun jenisnya. Perubahan menu harus dilakukan secara gradual, apalagi bila ternak belum terbiasa dengan menu makanan baru dan dalam kondisi yang kurang sehat.



mana ceunah deuk mere VCO tea jeung bibit minuman eunnakkk hehehehehe
Comment by tioooooo — November 28, 2005 @ 12:12 pm
say ingin bertanya tentang ampas kelapa atau bungil kelapa?
apakah bungkil kelapa yang dibuat sebagai bahan tempe bongkrek itu (dage) mempunyai nilai gizi?apa bisa limbah dari pembuatan tempe bongkrek itu dibuat pupuk atau yang lainnya yang bermanfaat?
Comment by windi haryanto — February 9, 2006 @ 8:59 pm
Gizi tentunya masih ada, setidaknya kadar protein dan lemak/minyak masih cukup tinggi. Namun kami belum memeriksakan proksimatnya di laboratorium. Tapi pengamatan kami secara langsung terhadap ternak, ampas kelapa (hasil pengolahan VCO) dapat diberikan pada ternak setelah dilakukan pengolahan terlebih dahulu, dengan cara menggoreng/merebus untuk memisahkan minyak dan ampas. Minyak yang dihasilkan masih dapat digunakan untuk menggoreng makanan, sedangkan ampasnya (blondo, galendo) dapat dijadikan campuran pakan ternak. Kami sudah mencoba pada komposisi max 20% dan sejauh ini tidak memperlihatkan efek negatif.
Pun demikian, ini adalah pengalaman pribadi kami, jika anda ingin mencobanya, tentu segala resiko anda yang menanggung
Comment by mang Layang — February 14, 2006 @ 9:59 am
Bagaimana komposisi asam lemak vco?
Comment by agnes — February 24, 2006 @ 8:58 am
#4 Silahkan lihat di http://lisahkalapa.blogspot.com
Ada URL standar VCO dari APCC (Asian Pacific Coconut Community).
Comment by mang Layang — February 24, 2006 @ 9:01 am
minta info tentang kandungan blondo.makasih
Comment by iin — April 8, 2006 @ 12:33 pm
gimana cara mengawetkan ampas kelapa untuk pakan ternak,
Comment by saeful anwar — April 15, 2006 @ 6:17 pm
#6 Maaf pak/ibu Iin, sampai saat ini kami belum mengeteskan kandungan nutrisi blondo. Tapi perkiraan kami berkisar antara 7 - 15% CP.
#7 Sampai saat ini metoda yang kami anggap paling baik yaitu dengan menggoreng/menumis ampas kelapa. Tapi cara ini membutuhkan energi panas yang cukup banyak, dan tidak di sarankan. Proses pengawetan dengan metoda ensilage (silase) yang kami coba juga belum bisa dibilang berhasil. Daya simpannya tidak bisa terlalu lama.
Barangkali ada rekan2 yang telah mencoba juga, silahkan sharing disini.
Comment by mang Layang — April 16, 2006 @ 3:34 pm
saya mahasiswailmu tanah,ingin bertanya masalah limbah VCO.apakah ada kemungkinan dibuat pupuk??kalo bisatolong dijelaskan mekanismenya.terimakasih.
mohon dibalas secepatnya!!
Comment by ita — April 17, 2006 @ 6:36 am
#9 Limbah VCO terdiri dari beberapa jenis: Air, Ampas parutan, dan blondo. Air kelapa baik sekali untuk media perkembangan mikroba starter pada pembuatan pupuk padat/cair.
.
Sedangkan untuk ampas parutan dan blondo karena kandungan minyaknya masih cukup tinggi, bila diberikan langsung pada tanaman tanpa proses terlebih dahulu, dijamin tanaman akan kering
Coba saja anda analisakan kandungannya, mungkin proses fermentasi aerob (composting) bisa digunakan. Jangan lupa share disini ya mbak
Comment by mang Layang — April 17, 2006 @ 8:40 am
minta info tentang ampas kelapa/bungkil hasil limbah VCO?
Comment by Y.divo.A — May 26, 2006 @ 9:09 pm
berdasar pengalaman coba ampas kelapa disiram dengan melase gula merah cair kurang lebih 25% dan setelah agak kering dijamin ampas kelapa tahan lama dan cukup enak baunya, sapinya juga cacamuilann makannya
Comment by udin — May 31, 2006 @ 1:34 am
saya mengalami pengalaman yang sama kang, saya biasa memberikan ampas tahu 3kg, konsentrat 4 kg dan bungkil kelapa 1/2 kg, karena persediaan bungkil habis saya ganti dengan ampas kelapa yg saya peroleh dari produsen vco dengan pertimbangan sama dari kelapa dan kualitasnya saya pikir ngak terlalu jauh, pada pemberian pertama cukup lahap tapi pada pemberian yg kedua dan ketiga ada perubahan semua sapi pada “ngahuleng” kang ngak mau makan, dan selanjutnya saya ngak berani lagi memberikan ampas kelapa tersebut.
apa manglayang masih memberikan ampas tersebut sampai sekarang? bagaimana caranya dan pengaruh terhadap ternak?
Comment by doni — June 25, 2006 @ 1:53 pm
minta info kandungan limbah cair VCO apa saja ya? metode Penurunan kadar minyak pada VCO yang sederhana apa?
Comment by linda — July 11, 2006 @ 9:52 pm
#13 Kang Doni, betul kang efeknya seperti itu untuk sapi perah, anehnya sampai saat ini kami masih memberikan ampas hasil perasan santan ke sapi pedaging di Garut Selatan, walaupun memang jumlahnya tidak banyak, sekira 300 - 500 gram saja per ekor. Itupun tidak rutin. Sejauh ini tidak ada efek ngahuleng pada sapi pedaging tersebut. Kesimpulan sementara kami, ampas kelapa yang diberikan ke sapi perah (di Bandung) mungkin berbeda tingkat kesegarannya dengan yang di Garut. Di Bandung, kami (juga anda) mendapatkan ampas dari produsen/orang lain, kita tidak tahu, ampas tsb sudah berapa lama, atau kelapanya seperti apa. Sedangkan di Garut ampas selalu fresh. Ini baru ‘mungkin’ lho kang, tanpa analisa para ahli, saya juga belum yakni
Comment by mang Layang — July 11, 2006 @ 10:54 pm
#14 Teh Linda, limbah cair dari proses pembuatan VCO yang biasa kami lakukan diantaranya adalah: air kelapa, air sisa santan dan minyak VCO yang tidak masuk grade untuk VCO yang baik.
Metoda penurunan kadar minyak ? bukannya kadar air ? maaf saya kurang mengerti pertanyaanya.
Comment by mang Layang — July 11, 2006 @ 10:59 pm
saya ingin menenyakan mengenai pembuatan pupuk ampas kelapa dengan bantuan fermentasi Asspergillus sp
Comment by Heriyani — August 12, 2006 @ 6:40 pm
#17 Mbak Heriyani, dari pantauan singkat di Internet, Aspergillus spp pada kompos berguna untuk membantu mencerna serat selulosa. Di alam jenis ini (salah satu) yang bertanggung jawab terhadap pelapukan bahan organik (mis: A. awamori, A. lipoferum) seperti juga Trichoderma spp. Ada sekitar 200 spesies Aspergillus. Tapi ada peringatan mengenai salah satu spesiesnya, A. fumigatus yang ditenggarai dapat menyebabkan penyakit yang disebut Aspergillosis.
.
Spesies lain, A. niger ada juga yang menggunakan untuk membantu fermentasi pada pakan ternak.
Pada prinsipnya bisa-bisa saja Aspergillus diperbantukan pada pembuatan kompos, karena memang pelapukan adalah salah satu tugasnya..
Namun saya pribadi masih berpegangan bahwa untuk membantu pembuatan kompos sebaiknya kita tidak menggunakan hanya satu jenis mikroba saja karena disadari atau tidak, teman-teman kecil kita itu saling bekerja sama melengkapi satu sama lain. Yang sulit memang menentukan komposisinya
Demikian mbak, mohon koreksi juga dari teman-teman.
Literatur terkait:
http://www.aspergillus.org.uk/
http://www.ciwmb.ca.gov/LEAAdvisory/06/06attch.doc
Comment by mang Layang — August 13, 2006 @ 1:27 am
mau nanya, kandungan limbah cair VCO terutama yang sebelum fermentasi apa aja?limbah ini kalau direbus ternyata menghasilkan busa yang banyak, bagaimana hal ini dijelaskan secara ilmiah?semoga ada pembaca yang mau memberi jawabannya. terima kasih
Comment by sofyan — November 28, 2006 @ 1:23 pm
asw, saya mau tanya kalo ampas kelapa itu memang masih ada kandungan gizinya ya? kira-kira manfaat utamanya untuk apa? kalo seratnya tinggi ga? truz boleh minta referensi website or apapun yang berhubungan dengan ampas kelapa?
terimakasih ya sbelumnya…
saya mhs ipb yang ingin tahu lebih banyak tentang ampas kelapa…
Comment by setiamanah — March 19, 2008 @ 6:56 pm
bisa kasih info. penampung minyak VCO di wilayah Jateng dan Jatim terima kasih yang mau kasih info
Comment by Jotho — April 16, 2008 @ 10:31 pm
Banyak yang nulis tentang A.niger berdasarkan literatur dan pengalaman bahwa jamur ini mengahisilkan Aflatoxin yang merangsang pembentukan sel kangker
Comment by A, Choliq — July 2, 2008 @ 10:06 am
bisa kasih info tentang pembuatan pupuk dengan bahan urine sapi?
Comment by ambartaruna — July 13, 2008 @ 10:01 pm
BISA KASI INFOO DIMANA DAN NO TELP, SAYA DAPAT MENEMUKAN BUNGKIL KELAPA??
Comment by melva — September 10, 2008 @ 12:18 pm
Ampas kelapanya dibuang kemana ya?saat ini kami punya klien yg butuh ampas kelapa dlm jumlah banyak,jika ada yg mau jual,bisa hubungi kami di 08562554686 (Saugi) atau di 0272 552814
Comment by Saugi — November 5, 2008 @ 1:10 pm
sy tertarik dengan ampas kelapa untuk diteliti maklum didaerah saya produusi kelapanya banyak. sy ingin tanyakan berapa % ampas kelapa dari 1 butir kelapa.tks
Comment by Fenny — May 26, 2009 @ 7:56 am